Lombok Utara, Gontornews — Ribuan ton bantuan kemanusiaan ini mulai diberangkatkan menuju Pelabuhan Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil) Tanjung Priok. ACT bersama TNI AL resmi melepas armada pengangkut bantuan logistik tersebut di gudang Indonesia Humanitarian Center Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, Rabu (15/8).
“ACT dan Mabes TNI telah menyiapkan 25 truk untuk mengangkut bantuan logistik ini, hari ini 10 truk, sisanya besok. Insya Allah Kamis (16/8) siang semua sudah tiba di Pelabuhan Kolinlamil,” kata Ibnu.
Tenda-tenda pengungsian di berbagai tempat menjadi pemandangan biasa di sebagian besar wilayah Lombok. Terpal biru dan hijau dibentuk serupa rumah guna berlindung dari terik siang dan dingin malam. Salah satu tempat berteduh masyarakat korban gempa Lombok berada di lapangan Desa Gondang, Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Utara. Lapangan ini merupakan tempat berlatih juara dunia lari 100 meter Lalu Muhammad Zohri.
Hampir dua pekan sudah gempa bumi dengan magnitudo 7 menggoyahkan Lombok. Hingga Senin (13/8), data BNPB menyebutkan, korban meninggal akibat gempa mencapai 436 jiwa. Sementara itu, ratusan kepala keluarga kehilangan tempat bernaung dan ribuan orang mengungsi di berbagai tempat untuk mengamankan diri.
Sekitar 1.080 atau 317 KK mengungsi di lapangan bertanah cokelat itu. Pascagempa, memang banyak masyarakat memilih bertahan di area yang lapang karena kehilangan rumah. Melihat kondisi ini, Aksi Cepat Tanggap akan mendirikan shelter di lokasi tersebut. Di sana juga dikirimkan Humanity Food Truck guna melayani kebutuhan konsumsi pengungsi.
“Akan ada 200 hunian sementara; terdiri dari 160 unit di Lapangan Gondang, dan 40 tersebar di Lombok,” ungkap Koordinator Tim Disaster Recovery Program ACT Sri Eddy Kuncoro, Rabu (14/8).
Bangunan tersebut serupa dengan unit-unit yang ada di kompleks Hunian Sementara Terpadu (Integrated Community Shelter) yang pernah dibangun untuk korban gempa Yogyakarta (2006) dan longsor Banjarnegara (2014).
ACT juga akan membangun MCK sebanyak 100 unit yang akan disebar di Lombok. Kebutuhan pendidikan berupa sekolah juga segera didirikan agar anak-anak korban gempa Lombok tidak kehilangan masa belajarnya di sekolah. “Ada juga 10 sekolah dan 10 masjid di Lombok,” tambah Eddy.
Pembangunan ratusan unit hunian sementara (shelter) beserta fasilitas umum lainnya menjadi ikhtiar ACT untuk membangun kembali kehidupan di Lombok. [Al Hafidh]























