Jakarta, Gontornews — Perjalanan industri keuangan syariah di Indonesia diwarnai dengan beragam dinamika sejak kelahirannya pada akhir abad ke-20. Berbagai lembaga keuangan syariah telah bermunculan, mulai dari perbankan, asuransi, pasar modal, pegadaian, hingga lembaga keuangan mikro, koperasi, dan Baitul Mal wat Tamwil.
“Perkembangan lembaga syariah yang cukup signifikan dari tahun ke tahun membuktikan bahwa minat masyarakat terhadap keuangan syariah semakin tinggi dan meluas,”kata Deputi Gubernur Bank Indonesia, Hendar, dalam peluncuran buku Dinamika Produk dan Akad Keuangan Syariah di Indonesia, hari ini (26/10), di Surabaya.
Namun demikian berbeda dengan sistem keuangan konvensional, dalam sistem keuangan syariah setiap produk yang dikeluarkan selalu terikat pada akad-akad yang mendasarinya, yang bertindak sebagai landasan filosofis produk keuangan syariah. “Akad syariah terus mengalami dinamika, untuk mengikuti perkembangan pasar,”jelasnya dalam keterangan tertulisnya yang diunggah di situs resmi Bank Indonesia.
Meski tumbuh cukup ekspansif, menurutnya, ekonomi syariah di Indonesia masih menghadapi tantangan. Pangsa keuangan syariah terhadap keuangan nasional maupun perekonomian masih sangat kecil, yaitu kurang dari 5%. Untuk itu, akselerasi pengembangan ekonomi syariah menjadi semakin penting. Karenanya, perlu diperhatikan oleh seluruh otoritas dan lembaga terkait. (Muhammad Khaerul Muttaqien)




















