Sydney, Gontornews — Perdana Menteri Australia, Scoot Morrison menyebut bahwa Australia mungkin saja mengakui Palestina sebagai ibu kota Israel sebagaimana ‘arahan’ dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump beberapa waktu yang lalu. Pernyataan tersebut rupanya mengkhawatirkan negara tetangga Indonesia dan tentunya Palestina.
Pernyataan Morrison tersebut berpotensi membuat ketegangan antara Australia dan beberapa negara di Asia yang selama ini teguh mendukung kemerdekaan Palestina seperti Indonesia. Selain itu, belum lama ini, Australia telah menandatangani kesepakatan dagang dengan Indonesia dan berpotensi rusak akibat pernyataan tersebut.
Sebagaimana diketahui, Indonesia merupakan negara yang dengan lantang mendukung kemerdekaan Palestina sejak lama dan menentang kebijakan kontroversial Presiden Donald Trump yang memindahkan Kedutaan Besar Amerika Serikat dari Tel Aviv ke Jerusalem sebagai legitimasi pendudukan Israel atas Palestina.
“Indonesia meminta Australia dan negara-negara lain mendukung pembicaraan damai dan tidak mengambil langkah-angkah yang mengancam proses perdamaian dan stabilitas keamanan dunia,” ungkap Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi sebagaimana dilansir Reuters.
Morrison mengaku bahwa dirinya telah menghubungi Presiden Indonesia, Joko Widodo tentang posisi Australia dalam menanggapi ‘arahan’ dari Presiden Donald Trump tersebut.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Palestina, Riyad Al-Maliki, menyebut Australia berpotensi melanggar hukum internasional dan tidak menghormati resolusi Dewan Keamanan PBB akibat memutuskan untuk mengakui Palestina sebagai ibu kota Israel serta memindahkan kedutaan besar Australia di Israel ke Jerusalem.
“Mereka mempertaruhkan hubungan perdagangan dan bisnis Australia dengan seluruh dunia khususnya dunia Islam,” kata Maliki.
Selain Indonesia dan Palestina, sebagaimana diungkapkan oleh Duta Besar Mesir untuk Australia Mohamed Khairat, 13 duta besar dunia Islam di Australia berkumpul di Canbera dan sepakat untuk mengungkapkan keprihatinannya terhadap keputusan Australia tersebut. [Mohamad Deny Irawan]






















