Belgrade, Gontornews — Presidan Serbia Aleksandar Vucic mengatakan pihaknya tengah mencari jaminan terkait bergabungnya Serbia sebagai bagian dari Uni Eropa pada tahun 2025 mendatang. Kesepakatan ini merupakan bagian dari konsekuensi diterimanya permohonan Kosovo sebagai anggota Uni Eropa dalam waktu dekat.
Kosovo sendiri merupakan negara kecil di Eropa yang berhasil merdeka dari Serbia pada tahun 2008 silam dan mendapatkan pengakuan dari 110 negara. Serbia belum mau mengakui kedaulatan Kosovo karena buruknya hubungan dan komunikasi di antara kedua belah pihak.
Selain Serbia, Rusia menjadi satu dari 5 negara Uni Eropa lain yang tidak mengakui kedaulatan Kosovo.
“Jika kita pernah mencapai kesepakatan (dengan Kosovo), Serbia perlu mendapatkan jaminan jelas bahwa kami akan menjadi anggota Uni Eropa pada 2025,” ungkap Aleksandar Vucic dalam wawancara yang dilakukan Reuters.
Lebih lanjut, Vucic maupun Hashim Thaci, Presiden Kosovo, tiba-tiba membatalkan pertemuan di Brussels, Belgia, Jumat (7/9) lalu, saat kedua belah pihak mulai membicarakan pertukaran wilayah untuk pertama kalinya. Petemuan tersebut, kabarnya, akan kembali digelar pada akhir bulan September ini.
“Kadang-kadang, saya tersenyum ketika mendengar bagaimana orang-orang menyederhanakan sesuatu dan mengatakan bahwa kesepakatan terjadi jika saya memberikan mereka tiga desa dan mereka mendapatkan enam desa sebagai balasannya,” kata Vucic.
“Jika kita pernah mencapai kesepakatan (dengan Kosovo), itu harusnya menjadi kesepakatan yang menyeluruh dan tidak hanya sekedar hubungan antara kami dan Albania saja di Kosovo tetapi juga harus memasukkan resolusi jalur Uni Eropa bagi kami dan kemajuan ekonomi,” jelas Vucic.
Vucic masih menganggap Kosovo sebagai tempat kelahiran bangsa Serbia serta negara asal Kristen Ortodoks yang menjadi keyakinan mereka. Walau bagaimanapun, hingga saat ini, Serbia masih menggap Kosovo menjadi bagian integral yang tidak dapat dipisahkan.
“Tidak ada seorangpun di wilayah ini harus takut dengan kesepakatan yang dilakukan antara Serbia dengan Albania di Kosovo. Karena wilayah ini akan lebih stabil, lebih kuat dan ekonomi yang kuat,” pungkas Vucic. [Mohamad Deny Irawan]





















