Jakarta, Gontornews — Hidayah dan gairah untuk belajar Islam bisa datang kepada siapa saja meski beragam tantangan menghalangi. Adalah Pieter Willem den Rooijen, pria asal Belanda, yang merasakan lika-liku menjadi Muslim saat di mana orang Barat belum banyak mengetahui Islam. Meski begitu Pieter beruntung memiliki keluarga terbuka. Bahkan, ibunya pernah memberikan beberapa kitab suci. “Ada Alkitab, ada al-Qur’an, ada kitab ajaran Budha,” ujarnya saat ditemui Gontornews di Masjid Istiqlal beberapa waktu lalu.
Setelah dibacanya, Pieter tertarik dengan Al-Qur’an. Pieter kagum dengan kandungan QS 2: 255. Selain itu pria yang menjadi mualaf sejak tahun 1994 itu tertarik dengan kandungan surat an-Nisa ayat 171 yang berisi koreksi terhadap konsep Trinitas.“Bagi saya, Al-Qur’an adalah kitab suci yang benar, dan QS 2: 255 dan QS 4: 171 sangat penting untuk keyakinan saya. Saya berpindah agama pada tahun 1994. Saat itu tidak banyak orang Barat tahu tentang Islam. Sekarang beda. Ada buku dan internet untuk mencari banyak hal,”ucapnya.
Selang dua tahun kemudian, Pieter bertemu dengan wanita asal Indonesia pada 1996 dan menikahi Enarini Tutur di masjid Den Haag pada 1999. “Dialah yang menjelaskan sedikit demi sedikit kepada saya tentang Islam,” paparnya. Tak berhenti sampai di situ, untuk mendalami Islam, Pieter mencari guru untuk berkonsultasi. “25 tahun lalu belum banyak buku dan internet yang bisa diakses untuk mencari informasi,” ungkapnya.
Karena itu Pieter belajar di beberapa masjid, termasuk kajian di masjid yang dimentori Ustadz asal Indonesia. “Ada salah satu masjid di mana imamnya orang Indonesia. Darinya Pieter belajar banyak tentang Islam. Bahkan ketika Ustadz sedang ceramah di mana pun itu, Pitter sering ikut untuk mendengar tausyiahnya,” ungkap istri Pieter, Enarini Tutur kepada Gontornews.
Ustadz tersebut, kata Rini, adalah alumni Gontor. “Kami banyak mendapatkan pengetahuan Islam dari alumni Gontor. Beliau adalah Ustadz Enjat Raffioedin dan Ustadz Hamdi Raffioedin. Saya lihat lulusan Gontor dekat dengan sesamanya maupun dengan yang lainnya. Kami sebelum Ramadhan alhamdulillah bisa berkunjung ke Gontor untuk bertemu Ustadz Hasan, Ustadz Amal dan Ustadz Hamid”imbuh Enarini.
Selain membina rumah tangga dan mendidik anak-anaknya, Pieter juga mendedikasikan dirinya untuk membantu masyarakat yang tertarik belajar Islam. “Sebagai sekretaris HIMMI kami memiliki kegiatan-kegiatan untuk menarik minat masyarakat tentang Islam karena masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk membuat mereka sadar,” tandasnya. [Muhammad Khaerul Muttaqien]




















