Jakarta, Gontornews — Alumni Gontor Putri lintas marhalah melaksanakan program yang telah direncanakan untuk turut serta memperingati 100 tahun Gontor melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat muallaf Baduy dalam bentuk bakti sosial dan santunan yatama pada Sabtu (16/11/2024) lalu.
Kegiatan ini berawal dari inisiatif para alumni Gontor Putri pasca-agenda “Seminar Nasional Peduli Palestina: Perjuangan Kemanusiaan Menuju Kemerdekaan Palestina” yang diinisiasi oleh para alumni Gontor Putri tahun 2000 Laraiba de Lavida, 16 Desember 2023, setahun sebelum agenda pengabdian ini dilaksanakan.
Pada agenda Pengabdian kepada Masyarakat Muallaf Baduy kali ini, para alumni Gontor Putri lintas marhalah bekerjasama dengan bagian Keputrian IKPM Banten yang disupport penuh oleh Ketua IKPM Banten KH. Sholeh Rosyad sebagai salah satu agenda menuju 100 tahun Gontor pada tahun 2026 mendatang.
Selain itu, para alumni putri dan IKPM Banten juga bekerjasama dengan Universitas Darussalam Gontor dan Pesantren Sultan Hasanuddin Al-Jawi serta beberapa universitas lainnya, yaitu Universitas Ibn Khaldun Bogor dan Institut Darul Qur’an Jakarta. Agenda ini selaras dengan upaya pemerintah dalam upaya mewujudkan SDG’s terutama SDG’s poin ke-1 (No Poverty) dan poin ke-2 (No-Hunger), terutama masyarakat muallaf Baduy.
Masyarakat muallaf Baduy adalah mereka yang memilih untuk meninggalkan budaya dan kepercayaan Sunda Wiwitan yang dianut oleh masyarakat Baduy. Dalam tradisi Baduy, ketika ada yang meninggalkan tradisi dan kepercayaan Sunda Wiwitan maka mereka harus keluar dari kampung mereka tanpa diperbolehkan membawa harta benda mereka kecuali yang melekat di badan.
Kebijakan tersebut memberikan ancaman di bidang ekonomi masyarakat muallaf Baduy yang harus memulai perekonomian mereka dari nol. Perlu adanya sinergi antara pemerintah, organisasi kemasyarakatan, lembaga pendidikan pesantren, dan civitas akademika dalam bersama-sama mewujudkan keamanan ekonomi, keamanan pangan, keamanan kesehatan dan keamanan kolektif masyarakat muallaf Baduy, mengingat pemerintah baru memberikan perhatiannya terhadap masyarakat ‘Baduy dalam’ ataupun ‘Baduy luar’ dan belum memberikan perhatian terhadap para muallaf Baduy.
Sebagai wujud nilai solidaritas kemanusiaan dan ukhuwah Islamiyah, para alumni Gontor Putri mulai alumni tahun 1999 hingga alumni tahun 2020 bersama IKPM Banten, UNIDA Gontor, UIKA Bogor dan IDAQU Jakarta menggelar Bakti Sosial dan Santunan Yatama di Pesantren Sultan Hasanuddin Al-Jawi yang dipimpin oleh KH. Zainuddin Amir. KH. Zainuddin Amir telah mengislamkan lebih dari 900 masyarakat Baduy, terhitung sejak tahun 1980-an hingga saat ini.
Hal tersebut juga yang melatarbelakangi pemilihan tempat kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan di pesantrennya yang terletak di Kecamatan Leuwidamar, Lebak, Banten. Berdasarkan dana swadaya IKPM Banten dan para alumni Gontor Putri, terkumpul sekitar 270 paket sembako untuk muallaf Baduy dan 50 paket uang santunan untuk yatama. Wajah-wajah bahagia terpancar dari masyarakat muallaf Baduy penerima bantuan, begitu juga panitia dan para para santri pesantren Sultan Hasanuddin Al-Jawi yang berjibaku mempersiapkan agenda tanpa kenal lelah.
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat muallaf Baduy pada dasarnya bertujuan untuk; Ikut serta aktif menyemarakkan agenda almamater menuju 100 tahun Gontor melalui kegiatan kemanusiaan berupa Bakti Sosial dan Santunan Yatama; Menguatkan sisi keamanan ekonomi masyarakat muallaf Baduy dalam mencapai SDG’s ke-1 (No Poverty) dan ke-2 (No Hunger); Meningkatkan sinergi antara lembaga sosial masyarakat maupun lembaga independent masyarakat (IKPM Banten dan alumni pondok modern Darussalam Gontor Putri) bersama para akademisi universitas (UNIDA Gontor, UIK Bogor dan IDAQU Jakart) dan lembaga Pendidikan pesantren (Pesantren Sultan Hasanuddin Al-Jawi) dalam upaya menguatkan keamanan ekonomi Masyarakat muallaf Baduy) dalam pencapaian SDG’s ke-1 dan ke-2 terkait “No Poverty” dan “No Hunger”; 4. Memupuk jiwa kemanusiaan dengan menguatkan ukhuwah islamiyah dan solidaritas antar alumni untuk bersama-sama membantu masyarakat yang membutuhkan.
Agenda ini juga menghadirkan Ustadz Sungkawa yang dikenal sebagai ‘singa podium’-nya masyarakat Banten. Dalam pidatonya, Ustadz Sungkawa menitikberatkan pada ajakan untuk senantiasa berbuat baik sebagai wujud kesyukuran manusia terhadap usia yang dititipkan, karena kelak semua akan ditanya tentang pemanfaatan dan penggunaan usianya dihabiskan untuk berbuat apa saja. Selain itu, KH. Zainuddin Amir juga turut memberikan sambutan hangat sekaligus menceritakan sejarah berdirinya pesantren Sultan Hasanuddin Al-Jawi yang ia pimpin.
Ia mengawali langkah dakwahnya sebagai dai di pedalaman Baduy sejak tahun 1980-an dan berhasil mengislamkan kurang lebih 900-an masyarakat Baduy. Salah satu upaya beliau adalah dapat memberikan pendidikan terhadap anak-anak muallaf Baduy, karena mereka secara kultur tidak pernah mendapatkan akses pendidikan. Beliau berharap, pemerintah memberikan perhatian kepada Masyarakat Baduy muallaf, sebagaimana pemerintah memberikan perhatiannya kepada Masyarakat Baduy Dalam maupun Baduy Luar khususnya di bidang peningkatan perekonomian melalui pemberdayaan potensi ekonomi berkelanjutan.
Kegiatan ini diakhiri dengan kunjungan secara langsung di kampung Baduy Luar. Karena waktu yang sudah sore dan diiringi gerimis, maka perjalanan dicukupkan hanya sampai kampung Baduy Luar, tidak sampai kampung Baduy Dalam.
Seluruh alumni gontor putri berharap, kegiatan kemanusiaan seperti Seminar Peduli Palestina maupun Pengabdian kepada Masyarakat muallaf Baduy dapat terus dikembangkan kedepannya, sebagai wujud kepedulian keluarga besar pondok modern Gontor terhadap Masyarakat yang membutuhkan dan meluaskan dakwah islam secara nyata di berbagai bidang.
(Ida Susilowati-Dosen Hubungan Internasional UNIDA Gontor sekaligus pembimbing kegiatan bakti sosial dan santunan Yatama muallaf Baduy)






















