Depok, Gontornews — “Amal ibadah yang diawali dengan tauhid yang benar yang ditunaikan sesuai dengan syarat dan rukunnya, memenuhi hak-hak dari ibadah tersebut, in syaa Allah dengan izin Allah mengantarkan kita menuju surga,” terang Ustadz Idrus Yusuf MA kepada Gontornews.com. Karena ini janji Nabi SAW kepada kita.
Allah SWT berfirman dalam al-Qur’an Surat An-Nisa’ ayat 69, “Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul (Muhammad), maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, Shiddiq, para pecinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shalih. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.”
Artinya orang yang melaksanakan ibadah dengan baik dan benar dijamin masuk surga. “Ibadah yang memasukan kita ke surga itu yang seperti apa?” tanya Ustadz Idrus. Nabi SAW menyebutkan dalam sebuah Hadits shahih, ”Apabila seorang istri shalat lima waktu dengan shalat yang benar, puasa di bulan Ramadhan dengan puasa yang benar (rukun dan adabnya), menjaga kemaluannya dan kehormatan dirinya kecuali untuk suaminya, dan mematuhi suaminya (dalam perkara yang sifatnya baik), maka Allah akan mengatakan kepadanya, wahai wanita (istri yang shalihah) masuklah engkau ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau inginkan.”
Makna dari menjalankan shalat lima waktu dan berbagai ibadah wajib yang disebutkan di atas, sejatinya bukanlah sekedar menjalankannya, namun juga dengan menunaikan hak-haknya. Salah satu cara mencapai kekhusyuan dalam shalat ialah dengan menjaga adabnya.
“Menjawab adzan, shalawat kepada Nabi, lalu membaca doa setelah adzan, serta shalat qabliyah, itu adabnya,” tekan ustadz berkacamata tersebut. Maka, sambungnya, orang jika tidak punya persiapan dalam shalat, maka akan malas. Tapi kalau kita berikan perhatian serius dari awal masuk waktu shalat, in syaa Allah kita akan sungguh-sungguh. Karena kita sudah menyiapkan hati dan diri kita ini untuk ibadah.
Biasanya orang yang malas-malasan, shalat qobliyah dan ba’diyahnya tidak ada, bahkan zikirpun sekenanya saja. “Nah, yang dimaksud oleh Rasulullah SAW di sini adalah orang yang memberikan perhatiannya, tidak hanya rukun dan syaratnya, tapi juga hak-haknya (adab-adabnya),” pungkas Ustadz Idrus Yusuf dalam sebuah Kajian Kitab Arbain Nawawi Hadits ke-22 yang diselenggarakan oleh Rumah Ilmu Al-Hilya, Limo, Depok tersebut. [Edithya Miranti]





















