Gontornews–Sejak kuliah, Amir Fauzi, SH.Int. pemilik brand WETAN Empire ini sudah menekuni dunia bisnis. Mulai dari jualan stiker, pin, dan kaos. Bukan tanpa alasan ia mencoba jualan saat kuliah yang dimulai pada tahun 2006, pasalnya materi perkuliahan di jurusan Ilmu Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran bagi dia saat itu kurang terasa pas karena selalu menggunakan referensi, teori dan asumsi kebarat-baratan.
“Saya seperti terjangkit disorientation syndrome selama mengikuti perkuliahan di kampus, materi yang diajarkan saat itu rata-rata mengacu pada keilmuan barat yang terkadang mendiskreditkan Islam dan kaum muslimin,” paparnya kepada Majalah Gontor beberapa waktu lalu.
Sebagai pelampiasan selama masa disorientasi, putra dari pasangan Hasan Maulani dan Titin Sumartini ini mencoba aktivitas lain yang bisa sedikit mengalihkan perasaan galau dan mendatangkan hasil, diantaranya adalah berjualan. Ia bersyukur, hasil dari pendidikan di Gontor cukup meneguhkan hatinya untuk tidak mudah digoyahkan oleh materi-materi ala barat.
“Saya semester dua, tahun 2007 sudah mulai bisnis, stiker, pin, kaos lalu berkembang ke bisnis lainnya diantaranya penjualan bahan baku bakso dan agrobisnis. Sebelum lulus kuliah saya sudah pernah mengalami kebangkrutan, tepatnya pada tahun 2010” kenang suami Dida Soraya ini.
Saat itu, kebangkrutan usaha Fauzi disebabkan oleh musibah terbakarnya kios tempat ia jualan yang disusul beberapa saat kemudian dengan gagal panen karena lahan pertaniannya kebanjiran. Akhirnya ia hanya bisa pasrah dengan musibah tersebut yang mewariskan sejumlah hutang. Dalam situasi yang kurang baik itu, Fauzi menghadap ibunya untuk meminta arahan tentang bisnis yang sebaiknya ia jalani.
Ternyata, sang ibu justru malah memberi nasihat kepada putranya untuk konsisten dalam berbisnis. Ibundanya mengarahkan agar Fauzi mencoba fokus di usaha sepatu. Mendengar jawaban itu, Fauzi tidak banyak bertanya dan pertimbangan seraya meneguhkan kembali keyakinannya bahwa kelak akan berhasil dengan bisnis sepatu ini.
“Nasihat ibu yang mengarahkan saya untuk bisnis sepatu adalah jimat bisnis bagi saya. Bukan modal Nol tapi saya memulai usaha dengan modal minus, setiap kali saya menghadapi kesulitan ataupun kegagalan dalam produksi dan bisnis sepatu, saya selalu mengingat jimat tersebut dan tidak pernah berhenti untuk bangkit kembali” ujarnya.
Setelah lulus kuliah di tahun 2013, Amir Fauzi nekad membuka produksi sepatu sendiri. Bermodal 2 juta saat itu, ia sewa kamar kosan untuk memproduksi sepatu. “Jauh dari kelayakan, kos-kosan dibuat produksi sepatu, mesin pun saya ambil mesin jahit Buterfly jadul bekas Ibu dari Subang ke Bandung pakai motor” kenang bapak dari tiga anak ini.
Fauzi menyadari, bahwa rintisan usahanya ini selain minim infrastruktur juga minim pengetahuan tentang sepatu dan kemampuan marketing karena tidak ada dasar pengetahuan sebelumnya. Semuanya serba minim, namun demikian berbekal semangat pantang menyerah dia merasa sangat yakin bahwa bisnisnya akan berjalan dengan baik nantinya.
Fauzi berprinsip, meskipun rugi ia akan jalani bisnisnya, itung-itung ia menjalankan wasiat ibunya. Benar saja, tahun pertama membuka bisnis sepatu, setiap bulan merugi hingga selama setahun. Tahun kedua, usaha sepatunya mulai menunjukkan hasilnya. “Bulan pertama di tahun kedua saya dapat untung 500 ribu, alhamdulillah,” kenangnya.
Fauzi menjelaskan nama brand yang ia usung cukup unik, namanya adalah WETAN Empire yang diambil dari bahasa sunda dan jawa yang berarti Kekaisaran Timur. Nama yang ia sematkan di produk sepatunya ini dibuat bukan tanpa alasan. Saat kuliah dia terus menerus menerima ilmu pengetahuan, teori dan sejarah kebudayaan barat, maka ia akhirnya memutuskan untuk membuat suatu karya counter culture yang bersifat berlawanan arah untuk menampilkan kembali identitas dan jati diri ketimuran dalam hal ini Indonesia.
Meskipun hanya sebatas nama pada jenis dan model sepatu yang diproduksi. Tapi dari sebuah nama akan terbangun citra dalam benak para pemakai yang diharapkan bisa menyadarkan mereka akan identitas dan jati diri mereka yang sesungguhnya. Teori semiotisme membawa Fauzi ke alam kesadaran bahwa sebuah nama merupakan tanda dan simbol untuk suatu peradaban yang dapat mempengaruhi karakter dan kepribadian suatu entitas masyarakat. “Saya meyakini counter culture ini bagian dari dakwah untuk meminimalisir pengaruh budaya barat,” paparnya.
Fauzi terus melakukan kampanye berdasarkan teori imagologi yang memunculkan khasanah kebudayaan timur. “Di akhir masa kuliah pun saya membuat skripsi tentang skema infiltrasi kebudayaan barat masuk ke Indonesia melalui produk sepatu,” ujarnya.
Fauzi berasumsi bahwa kalau seseorang menggunakan sepatu merk barat maka berdasarkan konsep keserasian dia akan menggunakan celana, baju, pakaian dan aksesorisnya pun bergaya barat. Kemudian makanan dan seluruh penunjang gaya hidup dia menggunakan gaya dan merek Barat. Barat sudah menguasai apapun yang dia kenakan dan sedikit demi sedikit akan merasuki pikiran dan gaya hidup selaras dengan Barat.
Menurut keyakinan Fauzi, saat itu hilanglah identitas jatidirinya sebagai bangsa nusantara, hal ini jika terjadi pada pejabat, masihkan akan memikirkan nasib bangsa sendiri? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang sering Fauzi fikirkan dan menjadi domain penting dalam gerak dakwahnya.
“WETAN Empire ingin menyadarkan seluruh pemakainya tentang jati dirinya juga sebagai bentuk real dari pergerakan counter culture. Oleh karena itu jenis sepatu WETAN dilabeli dengan nama-nama kerajaan yang pernah Berjaya di Nusantara di masa lalu seperti Pajajaran, Sriwijaya, Majapahit, Gianyar dan Kartanegara,” katanya.
Fauzi tetap konsisten dengan sepatu bergenre classic. Beruntung, pada tahun 2015 berdasarkan majalah fashion internasional trend sepatu pria mengarah ke gaya yang bergenre klasik, “Ternyata genre yang saya bawa ini sesuai dengan pergerakan pasar. Tahun 2015 ini trend fashion bergerak kembali ke tahun 70-an. Akhirnya saya menemukan momentum di mana produk yang saya pasarkan benar-benar di terima oleh masyarakat,” katanya.
WETAN Empire mencoba menggabungkan sepatu klasik yang simple tapi tetap nayaman dipakai. Karenanya salah satu gebrakan yang ia lakukan adalah mengkolaborasikan kenyamanan sepatu olahraga kedalam sepatu pantofel. Jadi pengguna ketika memakai pantofel akan merasakan kenyamanan seperti menggunakan sepatu olahraga. Alhamdulillah dengan kreatifitas dibidang kenyamanan akhirnya produk sepatu WETAN menjadi sepatu Pantofel pria terlaris dan paling banyak dicari di Marketplace Tokopedia.
Sejak trend klasik itu berkembang, maka orderan sepatu WETAN Empire terus diburu pelanggannya. Pegawai yang ikut mengukir karya pun secara bertahap bertambah dari hanya satu orang kini menjadi 17 orang. Bahkan ia juga memberdayakan masyarakat di pinggiran sungai Citarum yang sering terkena banjir dengan memberdayakan mereka untuk berkarya membuat kerajinan tangan dari sisa produksi sepatu. “Saya berikan bahan sisa produksi dan kemudian membeli kembali hasil karya warga pinggiran Citarum, saya ingin menjadi orang yang bermanfaat untuk orang lain, mungkin saat ini baru itu yang bisa saya dermakan” jelasnya.
Fauzi menjelaskan, bahwa bisnis sepatu yang ia geluti ini selain menggunakan bahan dasar kulit, ada juga yang berbahan baku sintetis. Dalam hal ini dia cukup menyayangkan karena bahan sepatu sintetis yang ada selama ini diimpor dari Cina. Sementara bahan baku dari pabrik lokal kurang baik kualitasnya.
“Saya berharap ke depan, dari teman-teman FORBIS ada yang bergerak di bidang industri bahan baku baik itu bahan baku tekstil maupun kulit dengan kualitas baik sehingga kita tidak tergantung dengan produk luar. Saya siap menggunakan dan bahkan memasarkannya ke rekan-rekan sesama pengrajin sepatu,” tegasnya.
Untuk penjualan, Fauzi lebih fokus menggunakan channel penjualan online di Tokopedia dan beberapa marketplace di Indonesia. Selain itu juga dia juga menggunakan social media seperti facebook dan lain sebagainya. Bagi Fauzi jika membuka kios offline akan membutuhkan cost yang banyak sehingga tingkat efisiensinya rendah.
“Saya fokuskan pemasaran produk saya di online. Karena infrastruktur masih minim, untuk offline harus buka toko yang harga sewanya cukup mahal. Di Jalan Raya Cibaduyut, harga sewa roko Ukuran 6×3 meter bisa mencapai Rp 50 juta setahun. Baru tokonya, belum desain interior, dan lain sebagainya, apalagi kalau yang kita sewa adalah ruko, harganya bisa berkali lipat” ujarnya.
Fauzi merasa bersyukur, dengan penjualan melalui media online bisnis yang ia geluti mulai menampakkan hasilnya. “Saya berharap bisnis ini bisa berkembang dan bermanfaat untuk sesama, dan menjadi ajang pengenalan kembali akan jati diri anak bangsa,” tuturnya.
Antara Kuliah, Kerja atau Kawin
Setelah menamatkan pondok modern Darussalam Gontor di tahun 2003, Fauzi menjalani pengabdian di Gontor 2 selama setahun. Setelah pengabdian, ia mengalami masa disorientasi selama dua tahun selama itu dia jarang berada dirumahnya di Subang. Waktu itu ia beperpergian ke Jawa, Bali, Banten dan lain-lain. Luntang lantung tanpa tujuan yang jelas.
Fauzi seolah kehilangan arah, antara bekerja, kuliah atau menikah. Tiba-tiba, setelah dua tahun tanpa arah yang pasti, ayahnya menegur Fauzi. “Jika kamu tidak mau kuliah, maka kamu kawin saja!” demikian sang ayah mengultimatum Fauzi.
Fauzi pun kaget, akhirnya ia memilih untuk kuliah. Saat itu, ayahnya mendorong untuk daftar kuliah di Al Azhar Mesir namun terlambat waktunya. Akhirnya Fauzi ikut SPMB dan berhasil diterima di Universitas Padjadjaran jurusan Ilmu Hubungan Internasional.
Sebelum melanjutkan di dunia kampus, Fauzi adalah santri Pondok Gontor. Ia masuk Gontor tahun 1999 karena tertarik mondok ketika melihat dokumentasi yang dimiliki ayahnya saat nyantri di Gontor tahun 1976. Banyak buku-buku dari Gontor menghiasi lemari rumahnya, dari situlah ia tertarik untuk nyantri di Gontor.
Semangat menggebu nyantri di Gontor akhirnya terbayarkan setelah ia lulus menjadi santri baru di Gontor. Adaptasi tergolong cepat, pasalnya sebelum di Gontor ia pernah nyantri di pondok salaf yang ada di sekitar rumahnya di Subang.
Namun seiring perjalan waktu, ujian rasa tidak betah mondok muncul ketika dia menginjak kelas tiga. Saat itu, ia harus pindah kamar dari gedung baru ke gedung lama. Disitulah ia mulai merasa tidak betah. Akhirnya ia melapor ke ayahnya untuk keluar dari pondok.
Anehnya, sang ayah justru dengan cepat ke pondok dan mempersilahkan anaknya untuk mengemasi pakaiannya dan segera pamit ke ustadz pengasuhan santri. Tak banyak percakapan, akhirnya Fauzi pun pulang ke rumah. Selama dua minggu dirumah dia dibiarkan oleh ayahnya tanpa ada kegiatan apa-apa lalu dia pun merasa tidak betah diam dirumah tanpa kegiatan apa-apa, akhirnya ia meminta kepada ayahnya untuk kembali ke Gontor.
Fauzi pun akhirnya mampu bertahan belajar di Gontor. Selama di Gontor, ia aktif di kegiatan tulis menulis dan diskusi yang tergabung di Darussalam Pos. Di komunitas ini, Fauzi merasa memiliki tempat untuk menyalurkan besarnya energi masa remaja, mulai dari hunting berita pondok, menulis, berdialog, beriskusi bahkan berdebat. Saking fokus dan asyiknya dia beraktifitas di Darussalam Pos, disana Fauzi pernah menjabat sebagai pimpinan redaksi meskipun tidak lama karena diamanati Pondok untuk menjadi kader Koperasi Pelajar.
Pondok Modern Darussalam Gontor sangat berkesan bagi Amir Fauzi, “Saya teringat dan selalu ingat akan wejangan Pak Kiai Hasan. Dalam berpidato beliau selalu menggetarkan jiwa. Ada satu kalimat Pak Kyai yang selalu saya pegang dan tidak pernah terlupakan. Kenyataan belum tentu benar, kebenaran belum tentu nyata, nyatakanah kebeneran bukan membenarkan kenyataan,” demikian Fauzi menutup wawancara dengan Majalah Gontor. [fathurroji]



















