Beirut, Gontornews – Rencana Presiden Rusia Vladimir Putin untuk menarik pasukannya dari Suriah ditanggapi skeptis oleh para pengamat.
“Ini bukan penarikan, karena Rusia menjaga pangkalan udara dan angkatan lautnya,” kata George Alam, seorang analis politik di ibukota Lebanon, Beirut, seperti dikutip Aljazeera.
“Dan Putin mengatakan, ‘jika teroris kembali, kita akan menyerang mereka.” Jadi itu berarti kekuatan militer Rusia masih ada di Suriah.”
Alam mengatakan, perintah Putin mengirim pesan yang kuat kepada AS. Menurutnya, keputusan itu sangat politis.
“Ini adalah cara Rusia untuk meminta masyarakat internasional menekan AS agar menarik pasukannya dari Suriah.”
Dia menambahkan, “Rusia terganggu oleh apa yang dilihatnya sebagai kehadiran ilegal pasukan AS.”
Pekan lalu, Pentagon mengungkapkan bahwa ada sekitar 2.000 tentara AS di Suriah, empat kali lipat dari yang telah diakui publik sebelumnya.
Elie Hajj, seorang analis politik, mengatakan perintah Putin untuk penarikan pasukannya merupakan pesan untuk sekutunya sendiri, Iran, di tengah tekanan oleh AS dan Israel untuk mengekang pengaruh Teheran di wilayah tersebut.
“Pesan ke Iran adalah bahwa tidak ada kebutuhan bagi Anda untuk tinggal secara permanen di Suriah … tidak perlu memperluas kehadiran Anda lagi,” katanya kepada Aljazeera.
“Operasi militer besar sudah selesai dan inilah saatnya untuk mendapatkan solusi politik.” [Rusdiono Mukri]




















