وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيْدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيْدٌ
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS Ibrahim: 7)
Interpretasi Para Mufasir
Dalam Tafsir Al-Azhar dapat dipahami bahwa ayat di atas menerangkan bahwa inilah peringatan Tuhan kepada Bani Israil setelah mereka dibebaskan dari penindasan Fir’aun. Kebebasan itu merupakan perkara yang amat besar yang wajib disyukuri. Dalam bersyukur hendaklah terus berusaha guna mengatasi kesulitan. Setelah bebas dari tindasan Fir’aun, mereka harus membangun.
Jangan mengomel atas persediaan yang serba kurang, jangan mengeluh kalau belum apa-apa yang dicita-citakan. Syukuri apa yang ada, maka pastilah akan ditambah oleh Allah. Tetapi kalau hanya mengeluh, ini kurang, itu belum beres, yang itu lagi belum tercapai, seakan-akan pertolongan Tuhan itu tidak juga segera datang, maka itu namanya kufur, artinya melupakan nikmat, tidak mengenal terima kasih. Orang yang demikian akan mendapat siksa yang pedih dan mengerikan. Di antaranya ialah jiwanya merasa merumuk ditimpa penyakit rasa selalu tidak puas.
Fakhruddin Al Razi dalam Mafatihul Ghaib mengatakan, “Ketahuilah, maksud ayat ini adalah penjelasan bahwa barangsiapa menyibukkan dengan bersyukur kepada nikmat-nikmat Allah, maka Allah akan menambahkannya dengan berbagai kenikmatan dari-Nya.” Kenikmatan yang akan ditambahkan kepada orang yang bersyukur, juga merupakan kesimpulan para mufassir lainnya, seperti Al Thabari, Al Nasafi, Al Bhaidawi, Al Saukani, Al Sa’d dan lain-lain.
Razi juga menerangkan bahwa kandungan utama Surat Ibrahim ayat 7 setidaknya ada tiga, yaitu: Pertama, pada hakikatnya syukur merupakan ungkapan rasa pengakuan diri atas nikmat dari yang Maha Pemberi. Kedua, janji Allah untuk menambah kenikmatan bagi yang merasa bersyukur. Nikmat tersebut bisa berbentuk jasmani maupun ruhani. Ketiga, sikap kufur akan nikmat bisa menyebabkan rasa tersiksa. Rasa tersiksa ini muncul karena ia tidak tahu (tertutup) akan nikmat Allah sehingga ia juga tidak benar-benar mengetahui Allah.
Sementara itu Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa lafadzتَاَذَّنَ memiliki dua makna, yaitu: Pertama, artinya mengumumkan dan memberi tahu. Kedua, artinya bersumpah. Maksud dari “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu” adalah sesungguhnya jika kamu mensyukuri nikmat-Ku kepada kalian, niscaya Aku akan menambahkan kepadamu dari nikmat itu.
Maksud dari “tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku)” adalah kalian mengingkari nikmat-nikmat dan kalian menyembunyikannya; “maka pasti azab-Ku sangat berat”. Dan hal itu terjadi dengan dicabutnya nikmat itu dari mereka yang kufur nikmat dan dengan disiksanya mereka karena kufur nikmat.
Nilai-Nilai Pedagogis
QS Ibrahim: 7 mengandung sejumlah nilai pendidikan (pedagogis) bagi manusia. Pertama, mendidik kita menjadi hamba yang senantiasa bersyukur atas limpahan nikmat yang diberikan Allah. Kedua, mengajarkan umat manusia agar senantiasa menjauhi sikap kufur nikmat yang mendatangkan azab Allah.
Ketiga, mendidik kita agar menjadi pribadi yang takwa dan memiliki akhlak terpuji. Keempat, memotivasi kita agar berlomba-lomba dalam kebaikan serta mencari ridha dan rahmat Allah serta ampunan-Nya.
Makna Nikmat
Kata nikmat ditemukan sebanyak 34 kali dalam Al-Qur’an. Kata ini, menurut pakar bahasa Ibn Faris, digunakan untuk menunjuk keadaan yang baik (Al-Halah Al-Hasanah), baik material maupun spiritual.
Nikmat diartikan pula sebagai tambahan atau kelebihan (al-ziyadah). Karenanya, dikatakan nikmat Allah begitu besar, sehingga tidak mungkin menghitungnya dan barangsiapa yang bersyukur maka nikmat Allah semakin berlimpah.
Makna Syukur
Dalam buku Mawa’izh al-Syekh Abdul Qadir Al-Jailani menyebutkan bahwa dalam pandangan ahli hakikat, syukur adalah mengakui nikmat yang diberikan oleh Sang Pemberi nikmat secara khusus.
Sedangkan Syaikh Shalih bin Abdul Aziz alu Syaikh menjelaskan dalam kitabnya At-Tamhid, bahwa wajib bagi seorang hamba memahami benar-benar bahwa setiap nikmat berasal dari Allah Ta’ala dan itulah hakikat syukur.
Pakar bahasa Arab Syekh ar-Raghib al-Ashfahani berpendapat bahwa kata syukur juga berarti sebagai upaya untuk mau menampakkan nikmat-nikmat Tuhan ke permukaan.
Menurut Imam Al-Ghazali cara bersyukur bisa dilakukan dengan empat hal, yaitu: syukur dengan lisan, syukur dengan hati, syukur dengan perbuatan, dan merawat kenikmatan yang diperoleh.
Imam Al-Ghazali juga menjelaskan bahwa syukur tersusun atas tiga perkara. Pertama, ilmu, yaitu pengetahuan tentang nikmat dan pemberiannya, serta meyakini bahwa semua nikmat berasal dari Allah SWT dan yang lain hanya sebagai perantara untuk sampainya nikmat, sehingga akan selalu memuji Allah SWT dan tidak akan muncul keinginan memuji yang lain. Sedangkan gerak lidah dalam memuji-Nya hanya sebagai tanda keyakinan.
Kedua, hal (kondisi spiritual), yaitu pengetahuan dan keyakinan tadi melahirkan jiwa yang tenteram, membuatnya senantiasa senang dan mencintai yang memberi nikmat dalam bentuk ketundukan dan kepatuhan. Mensyukuri nikmat bukan hanya dengan menyukai nikmat tersebut melainkan juga dengan mencintai yang memberi nikmat yaitu Allah SWT.
Ketiga, amal perbuatan. Ini berkaitan dengan hati, lisan, dan anggota badan, yaitu hati yang berkeinginan untuk melakukan kebaikan, lisan yang menampakkan rasa syukur dengan pujian kepada Allah SWT dan anggota badan yang menggunakan nikmat-nikmat Allah SWT dengan melaksanakan perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya.
Makna Kufur
Menurut Imam Al-Ghazali, kufur nikmat adalah menggunakan kenikmatan yang telah diberikan oleh Allah pada hal-hal yang tidak diridhai-Nya dan enggan mengucapkan Alhamdulillah.
Kufur merupakan lawan dari kata syukur. Kufur adalah mengingkari nikmat yang telah diberikan Allah, hatinya tidak mengakui bahwa semua nikmat yang diterima merupakan pemberian dari Allah, lisannya tidak memuji atas nikmat yang diberikan Allah, dan anggota tubuhnya tidak digunakan untuk beramal shalih.
Imam Al Mawardi dalam kitab Adabud Dunya menjelaskan bahwa orang yang kufur atas nikmat Tuhan berarti ia berani menentang kepada-Nya karena pada hakikatnya Allah zat yang memberi nikmat.
Allah SWT berfirman:
فَاذْكُرُوْنِيْٓ اَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْا لِيْ وَلَا تَكْفُرُوْنِ ࣖ
“Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.” (QS Al-Baqarah: 152)
Allah memberikan berbagai karunia agar kita bersyukur. Allah berfirman:
اَللّٰهُ الَّذِيْ سَخَّرَ لَكُمُ الْبَحْرَ لِتَجْرِيَ الْفُلْكُ فِيْهِ بِاَمْرِهٖ وَلِتَبْتَغُوْا مِنْ فَضْلِهٖ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَۚ
“Allah-lah yang menundukkan laut untukmu agar kapal-kapal dapat berlayar di atasnya dengan perintah-Nya, dan agar kamu dapat mencari sebagian karunia-Nya dan agar kamu bersyukur.” (QS Al-Jasiyah: 12)
Manusia tidak akan mampu menghitung nikmat yang diberikan Allah dan kebanyakan manusia mengingkari nikmat-Nya. Allah berfirman:
وَاٰتٰىكُمْ مِّنْ كُلِّ مَا سَاَلْتُمُوْهُۗ وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَاۗ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَظَلُوْمٌ كَفَّارٌ ࣖ
“Dan Dia telah memberikan kepadamu segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS Ibrahim: 34)
Allah memberikan berbagai karunia agar kita bersyukur. Allah SWT berfirman:
يَعْمَلُوْنَ لَهٗ مَا يَشَاۤءُ مِنْ مَّحَارِيْبَ وَتَمَاثِيْلَ وَجِفَانٍ كَالْجَوَابِ وَقُدُوْرٍ رّٰسِيٰتٍۗ اِعْمَلُوْٓا اٰلَ دَاوٗدَ شُكْرًا ۗوَقَلِيْلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُوْرُ
“Mereka (para jin itu) bekerja untuk Sulaiman sesuai dengan apa yang dikehendakinya di antaranya (membuat) gedung-gedung yang tinggi, patung-patung, piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk-periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah wahai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (QS Saba: 13)
Allah mengingatkan nikmat mana lagi yang kau dustakan. Allah SWT berfirman:
فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS Ar-Rahman). Ayat ini diulang sebanyak 31 kali dalam surat Ar-Rahman.
Di antara cara bersyukur yaitu mengucapkan terima kasih kepada manusia. Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ لَا يَشْكُرُ النَّاسَ لَا يَشْكُرُ اللهَ
“Orang yang tidak berterima kasih kepada manusia, berarti ia tidak bersyukur kepada Allah.” (HR Tirmidzi No. 1954)
Bahaya Kufur Nikmat
Pertama, Allah menimpakan bencana kelaparan dan ketakutan. Allah berfirman:
وَضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ اٰمِنَةً مُّطْمَىِٕنَّةً يَّأْتِيْهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِّنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِاَنْعُمِ اللّٰهِ فَاَذَاقَهَا اللّٰهُ لِبَاسَ الْجُوْعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوْا يَصْنَعُوْنَ
“Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezeki datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduknya) mengingkari nikmat-nikmat Allah, karena itu Allah menimpakan kepada mereka bencana kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang mereka perbuat.” (QS An-Nahl: 112)
Kedua, Allah membinasakan umat yang kufur nikmat dan lebih banyak mengumpulkan harta.
Allah berfirman:
قَالَ اِنَّمَآ اُوْتِيْتُهٗ عَلٰى عِلْمٍ عِنْدِيْۗ اَوَلَمْ يَعْلَمْ اَنَّ اللّٰهَ قَدْ اَهْلَكَ مِنْ قَبْلِهٖ مِنَ الْقُرُوْنِ مَنْ هُوَ اَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَّاَكْثَرُ جَمْعًا ۗوَلَا يُسْـَٔلُ عَنْ ذُنُوْبِهِمُ الْمُجْرِمُوْنَ
“Dia (Qarun) berkata, ‘Sesungguhnya aku diberi (harta itu), semata-mata karena ilmu yang ada padaku.’ Tidakkah dia tahu, bahwa Allah telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan orang-orang yang berdosa itu tidak perlu ditanya tentang dosa-dosa mereka.” (QS Al-Qashas: 78)
Allah juga berfirman:
فَخَسَفْنَا بِهٖ وَبِدَارِهِ الْاَرْضَ ۗفَمَا كَانَ لَهٗ مِنْ فِئَةٍ يَّنْصُرُوْنَهٗ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۖوَمَا كَانَ مِنَ الْمُنْتَصِرِيْنَ
“Maka Kami benamkan dia (Qarun) bersama rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya satu golongan pun yang akan menolongnya selain Allah, dan dia tidak termasuk orang-orang yang dapat membela diri.” (QS Al-Qashas: 81)
Ketiga, mendapatkan siksaan Allah. Allah berfirman:
مَا يَفْعَلُ اللّٰهُ بِعَذَابِكُمْ اِنْ شَكَرْتُمْ وَاٰمَنْتُمْۗ وَكَانَ اللّٰهُ شَاكِرًا عَلِيْمًا ۔
”Allah tidak akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman. Dan Allah Maha Mensyukuri, Maha Mengetahui.” (QS An-Nisa: 147)
Orang yang kufur nikmat yaitu seseorang yang terlalu cinta dunia, menurut Ibnul Qayyim dalam Ighatsatul Lahfan, akan mendapatkan tiga kegalauan yang terus menerus dirasakanya sepanjang hidup:
مُحِبُّ الدُنْيَا لَا يَنْفَكَ مِنْ ثَلاَثِ : هُمْ لَازِمُ وَ تَعبُ دَائِمُ وَ حَسْرَة لَا تَنْقَضَي
“Pecinta dunia tidak lepas dari tiga hal: kegalauan dan keletihan terus-menerus serta kekecewaan yang tiada akhir.”
Penyebab Kufur Nikmat
Pertama, tidak mensyukuri yang sedikit. Rasulullah SAW bersabda :
حَدَّثَنَا يَزِيدُ أَخْبَرَنَا الرَّبِيعُ بْنُ مُسْلِمٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ زِيَادٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَن لا يشكرُ القَليلَ لا يَشكرُ الكثيرَ (رواه مسلم)
“Telah menceritakan kepada kami Yazid telah memberi kabar kepada kami Rubai’ bin Aslam dari Muhammad bin Ziyad dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah SAW bersabda: Orang yang tidak mensyukuri yang sedikit, ia tidak akan bersyukur pada nikmat yang banyak.” (HR Muslim)
Kedua, kurang beribadah. Rasulullah SAW bersabda:
حَدَّثَنَا يَزِيدُ أَخْبَرَنَا الرَّبِيعُ بْنُ مُسْلِمٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ زِيَادٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَن لا يشكرُ القَليلَ لا يَشكرُ الكثيرَ (رواه مسلم) حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا عِمْرَانُ ابْنَ زَائِدَةَ بْنِ نَشِيطٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي خَالِدٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يا ابنَ آدمَ : تَفَرَّغْ لعبادَتِي أملأْ صدركَ غِنًى وأسُدُّ فقرَكَ ، وإِنْ لَّا تفعلْ ملأتُ يديْكَ شُغْلًا ، ولم أسُدَّ فقْرَكَ (رواه ابن ماجه)
Artinya: “Telah menceritakan kepada kami (haddatsana) Muhammad bin Abdullah haddatsana Imran bin Zaidah bin Nasyith dari ayahnya dari Abu Khalid dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah SAW Bersabda: Allah SWT berfirman: Wahai manusia! Habiskan waktumu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku penuhi dadamu dengan kecukupan dan akan Aku tutup kefakiranmu. Jika engkau tidak melakukannya, maka akan Aku penuhi kedua tanganmu dengan kesibukan dan Aku tidak akan tutup kefakiranmu”. (HR Ibnu Majah)
Kisah Teladan
Suatu hari Nabi Musa didatangi orang miskin dengan pakaian lusuh dan compang-camping. Si miskin berkata kepada Nabi Musa, “Wahai Nabi Allah, doakanlah untukku agar Allah SWT menjadikan aku orang yang kaya raya.”
Nabi Musa pun tersenyum mendengar permintaan itu, beliau berkata, “Saudaraku, perbanyaklah bersyukur kepada Allah SWT.” Si miskin tentu saja terkejut, dengan kesal ia berkata “Bagaimana aku bisa bersyukur, sedangkan kondisiku seperti ini.” Akhirnya si miskin meninggalkan Nabi Musa dengan perasaan kecewa.
Di kesempatan lain, ada orang kaya yang juga menghadap Nabi Musa, dia berkata, “Wahai Nabi Allah, tolong sampaikan kepada Allah SWT, agar aku dijadikan orang miskin sehingga aku tidak terganggu dengan hartaku.”
Nabi Musa pun tersenyum, lalu berkata, “Wahai saudaraku, mulai saat ini berhentilah bersyukur kepada Allah SWT.”
Mendengar jawaban Nabi, orang kaya itu berkata, “Wahai Nabi Allah, bagaimana mungkin aku tidak bersyukur kepada Allah SWT dengan semua karunia-Nya yang dilimpahkan kepadaku? Allah SWT telah memberikan aku mata yang dengannya aku dapat melihat. Memberiku telinga yang dengannya aku dapat mendengar. Allah SWT juga telah menganugerahkan aku tangan yang dengannya aku dapat bekerja dan telah memberikan aku kaki yang dengannya aku dapat berjalan.”
Singkat cerita setelah kejadian itu, terjadi perubahan mencolok kepada keduanya, si miskin yang tidak mau bersyukur semakin miskin dan si kaya menjadi semakin kaya dan hidup bahagia karena selalu bersyukur kepada Allah.
رَبِّ اَوْزِعْنِيْٓ اَنْ اَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِيْٓ اَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلٰى وَالِدَيَّ وَاَنْ اَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضٰىهُ وَاَدْخِلْنِيْ بِرَحْمَتِكَ فِيْ عِبَادِكَ الصّٰلِحِيْنَ
“Maka dia (Sulaiman) tersenyum lalu tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa, ‘Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orangtuaku dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shalih.” (QS An-Naml: 19) []





















