Aceh, Gontornews — Di tengah keelokannya yang menawan dengan ragam kekayaan alamnya nan menggoda, kondisi geografis Teluk Bintuni rupanya menjadi tantangan tersendiri sebagai belantara dakwah yang belum sepenuhnya tersentuh. Itulah tantangan yang kini dihadapi Ustadz Nasiruddin Albani.
Alih alih menikmati masa remaja dengan berpesta dan bersenang senang bareng teman teman tongkrongan, anak muda 22 tahun kelahiran Timika ini malah memilih menepi menjadi da’i mengabdi di Teluk Bintuni.
“Ternyata di Bintuni ini tidak kalah dengan tantangan dakwah di Pegunungan Arfak,” kata Albani yang pernah bertugas secara rutin menjadi khatib di Pegunungan Arfak, sebuah kabupaten pecahan Manokwari yang berada di ketinggian 2.955 meter dari permukaan laut.
Jebolan Sekolah Da’i Posdai Bogor tahun 2018 ini mengaku kaget saat kali pertama mendapatkan SK penugasan dakwah ke Teluk Bintuni. Selain ia masih asing dengan nama daerah ini, ia pun merasa belum cukup mampu menerima tugas tersebut.
“Tapi karena ini adalah tugas dakwah menyebarkan Islam rahmatan lil ‘alamiin, saya sami’na wa atha’na,” kata pria sempat dibesarkan di Karanganyar, Subang ini.
Kini Albani memulai debut dakwahnya di Teluk Bintuni. Saban waktu ia berkeliling dari satu tempat ke tempat lain untuk mengajarkan Al Qur’an.
Pada 23 November lalu, Albani kian memantapkan gerakan dakwahnya dengan adanya bantuan armada dakwah dari Posdai Pusat. Dengan armada tersebut, mobilitas dakwah Albani pun semakin gencar dan massif.
“Dengan adanya armada dakwah ini, semakin memudahkan kami untuk berdakwah,” katanya.
Bukan saja di kawasan penanda ujung timur Indonesia yang berada di kawasan kepala burung, Pulau Papua, Posdai sebelumnya juga telah mengirimkan armada dakwah untuk da’i mengabdi di Pulau Simeulue, Aceh.

Sejak armada dakwah diterima pada tanggal 15 November 2021, Ustadz Hardiansyah yang mengabdi di kawasan kurang lebih 150 km dari lepas pantai barat Aceh ini langsung tancap gas.
“Semoga selalu istiqamah dan dan terimakash telah menyentuh kami yang beada di daerah terpencil,” harap Hardiansyah.
Karena posisi geografisnya yang berada kurang lebih 150 km dari lepas pantai barat Aceh, praktis dakwah Hardiansyah pun dengan mengitari satu titik ke titik lainnya di Simeulue.
Dengan armada yang ada, Hardiansyah pun semakin relatif mudah melakukan pembinaan keagamaan seperti baca tulis Al Qur’an, taklim, dan lain sebagainya. Anda ingin ikut berdakwah di daerah terpencil, terluar, dan terdalam, tapi bingung caranya?
Jadilah Sahabat Motor Da’i, Anda sudah ikut menjadi bagian dari Dakwah. Dibutuhkan 34 unit Armada Dakwah untuk para Da’i yang tersebar di seluruh Indonesia.
Donasi Dakwah: BSI – 711 602 61 33/ BCA- 553 041 2425 a.n. Yayasan Dakwah Hidayatullah Pusat Jakarta.






















