Baku, Gontornews — Presiden Azerbaijan, Ilham Aliyev, mengatakan warganya tidak akan bersujud tunduk pada pendudukan Armenia. Sebelum perang antara Azerbaijan-Armenia di Karabakh, Presiden Aliyev bahkan yakin bahwa kemenangan Azerbaijan akan datang.
“Ini adalah kemenangan kita semua, kemenangan rakyat Azerbaijan. Karena rakyat kita tidak akan pernah sujud selama pendudukan. Kami tidak akan menerima itu dan tidak akan pernah melupakan tanah kelahirannya,” kata Aliyev saat berkunjung ke daerah Zangilan yang dibebaskan dalam perang Karabakh jilid kedua.
“Kami hanya melakukan upaya untuk memobilisasi semua orang kami dan membesarkan hati para pemuda untuk tetap memiliki semangat patriotisme. Tentu saja, kami telah memperkuat tentara kami, ekonomi kami, kedudukan internasional kami dan mencapai apa yang kam inginkan yaitu keadilan dalam sejarah,” ucapnya sebagaimana dilansir Yeni Safak.
Hubungan panas Azerbaijan dengan Armenia telah terjadi sejak tahun 1991. Kala itu, militer Armenia menduduki wilayah Nagorno-Karabakh, sebuah wilayah Azerbaijan yang diakui secara internasional.
Ketika perang baru terjadi pada 27 September 2020, tentara Armenia melancarkan serangan terhadap warga sipil, pasukan militer Azerbaijan dan melanggar beberapa perjanjian gencatan senjata atas nama kemanusiaan.
Selama konflik 44 hari, Azerbaijan berhasil membebaskan beberapa kota, hampir 300 pemukiman dan desa dari pendudukan Armenia yang berlangsung hampir tiga dekade terakhir.
Pada 10 November tahun lalu, kedua negara menandatangani perjanjian, yang diinisiasi Rusia, untuk mengakhiri pertempuran dan bekerjasama untuk menemukan resolusi komprehensif.
Pada 11 Januari, para pemimpin Rusia, Azerbaijan dan Armenia menandatangani pakta untuk mengembangkan hubungan ekonomi dan infrastruktur untuk memberi manfaat bagi seluruh wilayah. Kesepakatan ini juga termasuk pembentukan kelompok kerja trilateral di Karabakah.
Bagi Azerbaijan, gencatan senjata merupakan kemenangan. Sementara bagi Armenia, kesepakatan tersebut merupakan bagian dari kekalahan. Pasalnya, Azerbaijan mengakui bahwa 20 persen wilayahnya berada di bawah pendudukan, Armenia, secara ilegal selama hampir 30 tahun. [Mohamad Deny Irawan]





















