Teknaf, Gontornews — Setidaknya 14 orang delegasi Myanmar tiba di Bangladesh, Kamis (25/03/2023), dalam rangka mempersiapkan skema percontohan repatriasi yang melibatkan 1.200 orang dari sekitar 1 juta pengungsi Rohingya di Bangladesh. Keempat belas pejabat Myanmar ini menggunakan pakaian sipil dan tiba di lokasi pengungsi Rohingya di Teknaf dengan menggunakan perahu.
Wakil Komisaris Pengungsi Bangladesh, Shams ud Douza, mengatakan bahwa para delegasi sedang berupaya untuk berbicara dengan etnis Rohingya yang akan dipulangkan. Ia menganggap kedatangan delegasi Myanmar sebagai langkah membangun kepercayaan antara pemerintah dengan para pengungsi.
Sebagai informasi, para pengungsi etnis Rohingya tinggal di kamp-kamp lusuh di tenggara Bangladesh sejak melarikan diri pada tahun 2017. Kala itu, junta militer Myanmar menyerang mereka yang tinggal di negara bagian Rakhine. PBB sedang menyasar militer Myanmar atas dugaan percobaan genosida yang melibatkan para etnis minoritas muslim Rohingya di Rakhine.
Bangladesh dan Myanmar sedang berusaha untuk mengembalikan sekitar 1.100 orang ke Rakhine dalam beberapa pekan mendatang. Meski demikian, banyak etnis Rohingya yang khawatir dengan upaya pemulangan tersebut.
“Kami tidak memiliki perwakilan tetap dalam proses repatriasi ini,” kata Khin Maung, seorang pemimpin terkemuka Rohingya di kamp pengungsian Teknaf Bangladesh.
“Proses pemulangan ini hanya cuci mata. Kalau tidak ada jaminan penjagaan martabat kita, tidak ada gunanya kembali ke IDPs (Internally displacement people),” sambungnya kepada AFP.
Seorang warga Rohingya mengatakan bahwa proyek pemulangan mereka harus terkait dengan upaya pemberian status kewarganegaraan.
“Tempat kami harus dikembalikan. Hak kami untuk hidup seperti kelompok etnis lain harus dijamin secara hukum. Jika tidak, kami tidak dapat mempercayai para pembunuh masal (itu),” kata perwakilan Rohingya.
“Apa yang kami lakukan dengan tinggal di kamp-kamp pengungsi? Kami adalah warga negara Myanmar dan bukan tamu. Myanmar harus mengembalikan hak kami dan memulangkan kami,” ucap Semon Ara, seorang pengungsi Rohingya berusia 53 tahun. [Mohamad Deny Irawan]





















