Nairobi, Gontornews — Persatuan Bangsa-bangsa (PBB), Rabu (24/05/2023), melansir ada lebih dari satu juta warga Somalia mengungsi di negara mereka sendiri karena kekeringan, konflik dan banjir hanya dalam rentang waktu empat bulan saja.
Setidaknya, 433.000 orang terpaksa meninggalkan rumah mereka dalam rentang 1 Januari hingga 10 Mei ketika pemberontakan kelompok islam ekstremis berkecamuk serta terjadinya bentrokan di wilayah Somaliland yang memisahkan diri
“(Sementara itu) lebih dari 408.000 orang mengungsi akibat banjir yang melanda desa mereka dan 312.000 orang lainnya mengungsi akibat kekeringan,” kata badan pengungsi PBB, United High Comissioner for Refugee (UNHCR) dan badan pengungsi Norwegia, Norwegian Refugee Council (NRC) dalam pernyataan bersama yang dilansir Channel News Asia dari AFP.
Somalia dan tetangganya di Tanduk Afrika termasuk Ethiopia dan Kenya mengalami kekeringan terburuk dalam empat dekade terakhir setelah lima musim hujan gagal. Akibatnya, jutaan orang membutuhkan bantuan kemanusiaan karena musibah tersebut menghancurkan tanaman dan ternak milik warga.
Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, dan sejumlah pemimpin dunia bertemu di New York pada hari Rabu di sebuah konferensi untuk mencari dana sebesar 7 miliar dolar Amerika Serikat untuk membantu mereka yang membutuhkan di seluruh wilayah.
Badan kemanusiaan PBB, Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (OCHA), pekan lalu, mencatat sedikitnya 43,3 juta orang membutuhkan bantuan penyelamat dan penopang hidup di Tanduk Afrika.
Terkhusus wilayah Somalia, UNHCR dan NRC mencatat jumlah orang terlantar mencapai 3,8 juta orang dengan 6,7 juta orang lain berjuang untuk mendapatkan makanan. Tidak hanya itu, ada lebih dari setengah juta anak mengalami kekurangan gizi parah di wilayah tersebut.
“Ini angka yang mengkhawatirkan dari beberapa orang yang paling rentan yang terpaksa meninggalkan sedikit yang harus mereka tuju untuk hal yang tidak diketahui,” kata Mohamed Abdi, Direktur Regional NRC untuk Somalia.
“Kita hanya bisa takut pada yang terburuk dalam beberapa bulan mendatang karena semua unsur bencana ini mendidih di Somalia,” sambung Abdi.
Sebagian besar keluarga telah melarikan diri dari wilayah Hiraan di Somalia tengah dan Gedo di selatan negara yang berpenduduk 17 juta orang. Mereka tiba di daerah perkotaan yang penuh sesak serta membebani sumber daya yang sudah terbengkalai.
Tragedi Kemanusiaan
Badan-badan tersebut menyerukan investasi mendesak dan lebih besar untuk memerangi krisis. “Jika tidak, kita tidak akan pernah melihat akhir dari tragedi kemanusiaan yang sedang berlangsung ini,” kata Magatte Guisse, perwakilan UNHCR di Somalia.
Saat ini, lembaga bantuan hanya menerima 22 persen dana untuk memenuhi kebutuhan mereka di Somalia tahun ini.
Kelompok ekstremis, Al-Shabaab yang terkait dengan Al-Qaeda, telah memerangi pemerintah pusat yang rapuh sejak 2007 dan menguasai bagian-bagian pedesaan dari mana mereka telah melakukan banyak serangan baik di Somalia maupun di negara-negara tetangga.
Sementara itu, banjir bandang telah melanda Somalia telah terjadi sejak Mei pasca hujan lebat yang menyebabkan air memasuki rumah-rumah di kota Beledweyne di Hiraan. Banjir ini telah menenggelamkan jalan dan bangunan serta menewaskan 22 orang.
Tidak hanya itu, wilayah di Tanduk Afrika juga terluka akibat konflik bersenjata yang berkepanjangan dan bencana iklim. Badan pangan PBB, World Food Programme (WFP), Rabu (24/05/2023), memprediksi bahwa krisis masih jauh dari kata selesai.
“Tiga tahun terakhir kekeringan telah menyebabkan lebih dari 23 juta orang di seluruh bagian Ethiopia, Kenya, dan Somalia menghadapi kelaparan parah,” kata WFP dalam sebuah pernyataan.
Sedangkan OCHA mengatakan bahwa kelaparan di wilayah itu berhasil dicegah untuk sementara waktu meski keadaan darurat kemanusiaan belum berakhir. [Mohamad Deny Irawan]






















