Dhaka, Gontornews — Pihak berwenang di Bangladesh telah mengonfirmasi kematian pertama seorang pengungsi Rohingya dari virus corona, karena infeksi meningkat di kamp-kamp yang menampung lebih dari 1 juta Muslim Rohingya. Mereka berada di sana sejak melarikan diri dari negara tetangga, Myanmar.
Pengungsi berusia 71 tahun itu meninggal Sabtu di Ukhiya, Cox’s Bazar. Sampel darahnya dites positif pada hari Senin, kata Abu Toha MR Bhuiyan, kepala koordinator kesehatan di kantor Refugee, Relief and Repatriation Commissioner.
Pria itu meninggal di sebuah pusat isolasi yang didirikan oleh pemerintah dan lembaga-lembaga bantuan tempat dia dirawat dengan gejala COVID-19 seminggu sebelumnya.
Louise Donovan, juru bicara badan pengungsi PBB, mengatakan setidaknya 29 pengungsi Rohingya dinyatakan positif mengidap penyakit itu.
Dengan sekitar 40.000 orang per kilometer persegi (103.600 per mil persegi), 34 kamp pengungsi memiliki kepadatan populasi lebih dari 40 kali rata-rata Bangladesh. Setiap gubuk berukuran hampir 10 meter persegi (107 kaki persegi) dihuni hingga 12 orang.
Lembaga-lembaga bantuan dan pejabat pemerintah mengatakan, tantangan terbesar penanganan wabah virus di kalangan pengungsi.
Pihak berwenang di Myanmar yang mayoritas beragama Buddha menganggap Muslim Rohingya sebagai migran dari Bangladesh, meskipun keluarga mereka telah tinggal di Myanmar selama beberapa dekade. Hampir semua warga Rohingya telah ditolak kewarganegaraannya sejak 1982, yang membuat mereka tidak memiliki kewarganegaraan. Mereka juga tidak diberi kebebasan bergerak dan hak-hak dasar lainnya, termasuk pendidikan.
Sebagian besar Rohingya di kamp-kamp melarikan diri dari Myanmar setelah Agustus 2017, ketika militer Myanmar melancarkan operasi pembersihan sebagai respons terhadap serangan oleh kelompok pemberontak. Pasukan keamanan telah dituduh melakukan perkosaan massal, pembunuhan dan pembakaran ribuan rumah. []





















