Oleh KH Hasan Abdullah Sahal
Pimpinan Pondok Modern Gontor
Gontor itu dulu lam yakun syaian madzkuuraa. Dulu kita tidak diakui namun sekarang sudah seperti ini. Ini adalah hasil proses, dan barokah dari kebersamaan. Sepuluh tahun pertama, 10 tahun kedua sampai 10 tahun kesembilan semuanya saling berkaitan.
Selama 90 tahun pondok ini berdiri di atas dan untuk semua golongan. Sampai kapanpun Gontor tetap swasta, tidak dibawahi oleh siapapun. Gontor tidak dibawahi DPR, MPR, Presiden, Menteri, dan lain-lain walaupun mereka memberi sumbangan. Prinsip Gontor adalah “Di atas hanya Allah, di bawah hanya tanah”. Ini prinsip yang berlaku sampai hari kiamat.
Sistem pendidikan di pondok ini adalah Kulliyatu-l-mu’allimin Al-Islamiyyah, anak-anak diajarkan untuk menjadi muta’allim di satu sisi, dan mu’alim di sisi lainnya. Meskipun sudah menjadi guru, seumur hidup tetap muta’allim kepada Allah. Apa maskudnya? Maksudnya adalah hendaknya kita menuntut ilmu yang tak ada habisnya dari Allah yang Mahahidup, dan Maha Memberi Hidup, muta’allim abadan selamanya menjadi “murid” dari Allah SWT.
Anak-anak tidak hanya diajar tapi juga dididik di berbagai sisi kehidupan. Mereka dididik bahwa hidup untuk amanat, sakral, suci, muqaddas, dalam ibadah khidmat, berbakti pada Allah, kerja keras Dzahiran wa Bathinan, mujahdah lahiriyah dan bathiniyah. Seorang santri hendaknya jangan sampai terjerumus ke dalam kemaksiatan. Jangan sampai tertipu dengan hingar-bingar dunia! Sebagaimana yang tertera dalam al-Qur’an;
وَمَا الحيَاَةُ الدُنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الغُرُوْرِ
“Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”(Ali Imran:185)
فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا ۖ وَلاَ يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ
“Janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (setan) memperdayakan kamu dalam (menaati) Allah.”(Luqman:33)
Pondok mendidik anak-anaknya bukan hanya untuk menjadi Mu’allimu-l qoum tapi juga menjadi Mundziru-l-qoum.
وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ
“Tidak sepatutnya bagi Mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya”(at-Taubah:122).
Maka jadilah pemimpin-pemimpin yang baik, yang mendidik pemimpin-pemimpin lainnya. Jika menjadi wakil rakyat jadilah wakil rakyat yang mendidik wakil rakyat-wakil rakyat lainnya, jika menjadi pengusaha, jadilah pengusaha-yang mendidik pengusaha-pengusaha lainnya. Jika tidak begitu negara ini akan rusak, rusaknya negara karena rusaknya presiden-presiden. Jadilah presiden-presiden yang baik yang mendidik presiden-presiden yang lain. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang cakap mengajar, dan guru yang baik adalah guru yang cakap memimpin.
Suatu kesyukuran bahwa di Indonesia masih ada lembaga pendidikan pesantren. Dan Pondok kita masih pada paket-paketnya sampai sekarang. Itu semuanya adalah paket-paket pendidikan kehidupan yang dibuat oleh pimpinan pondok beserta pembantu-pembantunya sejak 1926. Sejak itu pula pondok tetap mandiri, sampai makan, dan minumnya tidak ada intervensi dari luar.
Kehidupan di pondok ini adalah paket pendidikan kehidupan, konsep kehidupan yang telah dirancang oleh Trimurti. Tidak boleh ada intervensi dari pihak luar yang mengganggu Gontor dari relnya, intervensi adalah suatu bentuk kezaliman. Untuk itu Gontor tidak berpolitik, tidak di bawah organisasi politik, Gontor bukan ormas, dan bukan bagian dari ormas. Pondok ini lembaga pendidikan bukan lembaga pergerakan. Alhamdulillah pondok in tidak terganggu oleh apapun dari luar.
Memang, saat ini dunia sedang tidak beres. Yang membuat dunia ini tidak beres adalah ananiyah (egoisme) merasa paling sanggup, merasa paling pintar, terpilih, terbaik, dan ter-ter lainnya. Ananiy itu bermacam-macam, Ananiy dalam kekuasaan contohnya Fir’aun, Namrud Ananiy dalam kekayaan contohnya Qarun.
Awal dari egoisme adalah kata-kata, “milikmu ya milikmu, milikku ya milikku. Pada akhirnya mereka akan berkata, “milikmu milikku juga”, “milikku ya milikku”. “Aku paling….”, “aku adalah…”, “aku kan…..”, “statusku…”, “nasabku….”, “hartaku”, “tahtaku”, “titleku”, “mauku”, “cita-citaku”, “ambisiku”. Seakan dia yang paling benar, dia yang puya segalanya. Padahal semua yang kita dapatkan, termasuk diri kita sendiri, hanyalah milik Allah.
قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لله رَبِّ العَالمِيْنَ
“Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam” (Al-an’am : 162)
Di antara nilai-nilai yang tidak boleh berubah adalah Panca Jiwa. Panca Jiwa kita yang pertama adalah keikhlasan. Di Gontor tidak ada pikiran, saya dapat apa? Saya dapat berapa? Berapa imbalan saya? Tidak ada cari gaji, cari muka, karena apa yang kita lakukan di pondok ini adalah Ibadah, masak ibadah cari pengakuan. Yang didapat di Gontor ini adalah barokah bukan imbalan, barokah organisasi, barokah kebersamaan, barokah pengorbanan dan sebagainya.
Salah satu bentuk kesyukuran, santri di Gontor ini bergairah dalam setiap kegiatan. Ini karena mereka memiliki sense of belonging (rasa kepemilikan). Hal ini terlihat ketika anak-anak diajak bermain futsal dengan wali kelas bergairah, dalam pramuka bergairah, jaga malam bergairah, dalam kegiatan apapun bergairah, sehingga pondok menjadi dinamis.
Untuk menumbuhkan gairah itu, pengasuh dan para pembantunya berkolaborasi dengan para santri, bekerjasama, membaur tidak hanya memerintah, tapi juga ikut berpartisipasi. Bakat-bakat dan minat anak dieksplorasi disertai dengan kecukupan fasilitas. Anak-anak juga tinggal dengan suasana yang enak, sehingga mereka bekerja dengan enak. Tapi jangan seperti pelawak, menyenangkan orang lain tapi dirinya sendiri tidak senang. Anak-anak kita buat bangga dengan adanya nilai plus, hal-hal yang bisa dibanggakan, seperti kunjungan presiden misalnya. Ini semua bisa tercapai dengan sakralisasi, tauhid mutlak, ikhlas mutlak, Pondok konsisten dengan kepesantrenan dan konsisten dengan kemodernan.



















