Oleh KH Hasan Abdullah Sahal, Pimpinan Pondok Modern Gontor
Bermimpilah. Karena Gontor pun memiliki cita-cita yang bunyinya begini: “Gontor omahku tegal sawahku, Asia halamanku, Eropa Amerika pelanconganku.”
Itu diucapan saat Gontor belum punya apa-apa, belum mendapatkan pengakuan, tapi sudah bermimpi.
Gontor bukan hanya mengatur kehidupan. Orang kaya, polisi, tentara, pegawai, birokrat, petani, pedagang amat sangat bisa untuk mengatur kehidupan di pesantren. Tetapi, kami tidak yakin mereka bisa mendidik pesantren. Dengan harta, tahta, senjata, undang-undang, kesejahteraan dan politik, (pesantren) bisa diatur. Tetapi, belum tentu bisa mendidik. Jadi, pekerjaan kita ini adalah ‘mendidik kehidupan’.
Inilah Gontor mendidik. Dan yang mendidik itu terdidik. Maka, terjadilah seperti antum (alumni) cair dengan sedemikian saja, karena di Gontor sudah dibuat melebur latar belakangnya. Yang gemuk diatur yang kurus, yang kibar diatur yang shigor; yang gemuk, yang kurus, makan 1 piring atau tiga piring, bayarnya sama; anak majikan dihukum anak karyawan; tidak ada yang protes. Karena sudah ‘terdidik’.
Gontor tidak terpengaruh apa-apa, tidak pak kiainya, tidak direkturnya, tidak qismul amnya. Kalau ada anak pejabat yang cabut, silakan. Very good very fine, tidak mau ikut cari yang lain.
Gontor tidak hanya mengajar ta’lim al–muta’allim , tapi juga ta’lim al–mu’allim. Anak-anak bukan hanya dididik untuk menjadi murid yang baik, akan tetapi menjadi guru yang baik. Liyundziruu qaumahu.
“Ketika ditanya bagaimana mendidik 4000 anak 24 jam, makan, tidur, shalat, olahraga di tempat yang sama? Sistem apa, madzhab mana, pola pendidikan apa, aliran pendidikan barat atau timur yang dipakai?” Beliau menjawab, ”Saya mendidik 4000 karena bisa mendidik 400, saya bisa mendidik 400 karena bisa mendidik 40. Saya bisa mendidik 40 karena bisa mendidik 4 orang.” Saya berarti pondok.
Gontor itu mendidik 4 orang dengan militansi dan sungguh-sungguh, dengan segala dinamika yang terdidik, akhirnya bisa mendidik 40 orang. Jumlah 40 yang terdidik disiplin, dinamis, kreatif, aktif , penuh inisiatif, bisa mendidik 400 orang. Sebanyak 400 yang terdidik seperti itu pula bisa mendidik 4000 orang. Maka, mendidik 4000 sama seperti 4 anak.
Di Gontor kehidupan mencair begitu saja. Begitu masuk Gontor, copot baju NU, Muhammadiyah.
Kita mendidik anak-anak menjadi tuan di negeri sendiri. Penjaga kopel yang seumuran anak SMA, mereka dididik memegang duit miliaran. Penjaga kopel, bagian keamanan tetap bayar uang sekolah. Gontor adalah republik kemandirian, bukan republik investor.
Gontor bisa diatur dengan sedemikian rupa bukan karena pak kiainya, Nabi atau wali; bukan karena saya (Pak Hasan), Pak Syukri, Pak Syamsul. Tapi karena al–barakatu fil harakah.
Memberi contoh yang baik gampang, yang sulit adalah menjadi contoh. Di dunia ini banyak yang memberi, mengajarkan dan menunjukkan contoh yang baik tapi sulit menjadi contoh itu sendiri. Lihat Pak Kiai, banyak mana tidurnya dengan anak, banyak mana makannya dengan santri.
Trimurti belum pernah menerima mobil dan sebagainya, tapi ketika turun, barulah kami adakan KUK, UKK, apotek, dsb. Akhirnya Alhamdulillah kita bisa hidup, menghidupi dan menghidupkan. Bahkan sekarang, Alhamdulillah kita bisa menjadi tuan di negeri sendiri. Tapi tidak meninggalkan panca jangka, tetap aman, nyaman,sehingga tidak diganggu oleh pihak lain.
Di zaman intervensi, kita tetap menjaga keamanan kita. Aman panca jiwa, aman kemandirian, aman ukhuwah islamiyah.
Di atas hanya Allah, di bawah hanya tanah. Tidak ada pengaruh NU, Muhammadiyah, UNESCO, PBB tidak bisa berbuat apa-apa di Gontor. Legislatif, yudikatif, eksekutif, harta, tahta, senjata, kereta, berita tidak akan mempengaruhi Gontor. Karena Gontor miliknya umat Islam seluruh dunia.
Keunikan Pondok Gontor tidak sama dengan rumusan-rumusan pendidikan di luar. Rumusan pendidikan pondok tidak sama dengan rumusan atau ukuran yang ada di organisasi lain. Contohnya anak seumur itu, meninggalkan orangtua dan rumahnya berbulan dan sebagainya tidak cocok dengan ilmu jiwa dan kedokteran. Ilmu jiwa dan ilmu kedokteran dengan Gontor tidak cocok, tapi Gontor berhasil.
Anak kelas satu KMI ketika liburan tidak akan nyambung dengan anak SMP kelas satu. Anak kelas lima KMI tidak nyambung dengan anak kelas dua SMA. Karena mereka tahu apa itu hidup, ‘why’ dan ‘what for’nya kehidupan, tapi SMA belum tentu. Di luar tidak ada organisasi punya inisiatif, apalagi PG dan DA, tapi di Gontor ada. Di sana ada kebersamaan, keikhlasan, kolaborasi, eskplorasi bakat anak; yang tidak dibayar malah membayar. Maka inilah ‘barakah’nya ‘harakah’.
Pesantren-pesantren di Indonesia dengan keadaan seperti ini bertambah dan naik meskipun dibilang teroris, radikal, kumuh, kemunduran, tidak bisa cari pekerjaan, dsb. Karena tetap Mundzirul qaum sebagai lembaga pendidikan.
Ingat keunikan kita ini. Mari kita pertahankan dan kawal terus, karena saya akan menitipkannya ke generasi selanjutnya. Mungkin yang akan datang lebih besar tapi nilai-nilai tidak boleh berubah, bergeser, berganti. Karena (pondok) bukan milik negara, keluarga, partai dan organisasi, tapi ini milik umat Islam seluruh dunia. Begitulah tercatat dalam piagam.
Maka, biarlah Gontor tetap jadi lembaga pendidikan, dan personel-personelnya silakan menjadi ini, itu, dan sebagainya, dan kalau bisa menjadi pendidik-pendidik masyarakat sekitarnya.






















