Tel Aviv, Gontornews — Pada hari Jumat (12/5), pasukan Israel menembak mati seorang pemuda Palestina dan melukai lebih dari 10 lainnya dalam bentrokan di Tepi Barat yang diduduki Israel.
Saba Nidal Obaid (20), ditembak di perutnya dekat Desa Nabi Saleh, utara Ramallah, dalam sebuah demonstrasi yang mendukung 1.500 orang Palestina dalam mogok makan di penjara Israel.
Otoritas Palestina membantah telah menghasut warga dan mengatakan bahwa dalam banyak kasus Israel telah menggunakan kekuatan yang berlebihan dalam menggagalkan penyerang yang dipersenjatai dengan senjata rudimenter.
Gelombang kerusuhan yang terjadi pada bulan Oktober 2015 telah merenggut nyawa 264 orang Palestina, 41 orang Israel, dua orang Amerika, satu Yordania, seorang Eritrea, seorang Sudan dan seorang warga Inggris, menurut catatan dari kantor berita AFP.
Sebagian besar orang Palestina yang terbunuh melakukan serangan dengan pisau, senjata api atau mobil, kata pihak berwenang Israel. Yang lainnya ditembak mati saat terjadi demonstrasi atau bentrokan, sementara beberapa lainnya terbunuh dalam serangan udara Israel di Jalur Gaza.
Sejak Oktober 2015, sejumlah kelompok hak asasi manusia lokal dan internasional telah mengemukakan kekhawatiran bahwa pasukan keamanan Israel telah menggunakan kekuatan yang berlebihan saat menghadapi orang-orang Palestina yang telah melakukan serangan atau dicurigai melakukan hal tersebut. [Rusdiono Mukri]























