Saya bersyukur, dengan modal KMI tidak mengecewakan. Pun dari segi mentalnya. Sampai orang-orang Indonesia yang di Mesir itu ada yang berkirim surat ke keluarga mereka di Indonesia mengatakan, “Adik-adiknya supaya disekolahkan di Gontor.”
Kalau dari yang naik haji, ini ada yang lewat Mesir. Jadi, yang dilihat anak-anak Gontor yang ada di Mesir, termasuk Syamil, Pegawai Negeri Bagian Kesehatan, tetapi tahu anak-anak Gontor itu baik: Ustadz Subakir (KH Imam Subakir Ahmad—red) dan kawan-kawannya. Setelah pulang ke Indonesia, betul-betul adik-adiknya disekolahkan di sini sampai tamat.
Yang satu lagi dari Jakarta, entah kalian tahu entah tidak, masih di Jakarta atau tidak, Ustadz Fathullah. Ia pandai bahasa Arab. Anaknya itu bernama Musa, dikirim ke Mesir belum pandai bahasa Arab. Yang mengajar bahasa Arab Ustadz Subakir. Kemudian dipaksa orangtuanya terus, supaya terus jangan pulang dulu.
Mula-mula di Universitas Kairo, disuruh pindah ke Universitas Al-Azhar, pindah ke Al-Azhar belajar bahasa Arab dulu. Tapi rupanya orangnya tekun betul. Tidak terlalu cerdas,
tapi tekun. Akhirnya, sampai menjadi doktor. Itu adiknya semua betul-betul disekolahkan ke sini. Ya tidak pintar semua, tapi adiknya ke sini semua.
Nah, ini satu peristiwa, saya anggap ini salah satu factor kemajuan KMI. Kemudian yang melanjutkan ke sekolah lain, ya banyak. Katakan yang sampai ke Kanada, ini yang dari KMI. Kemudian melalui Jakarta, lantas ke Kanada.
Alhamdulillah kok ya bisa. Mereka bisa menyelesaikan sampai jenjang magister. Siapa? Kafrawi (KH Kafrawi Ridwan—red) dan Hafidz (KH Hafidz Dasuki—red).
Yang di Indonesia, dari KMI juga ada yang masuk ke Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta atau Universitas Gadjah Mada. Itu memang harus ada adaptor-adaptor untuk menyambungkan. Harus ada sambungannya langsung dari KMI. Biasanya belajar dulu enam bulan atau setahun, baru mengikuti ujian, lulus, dan maju.
Tadi saya lihat seperti ada Dahlan (Solo), Murwanto salah satu keponakannya itu masuk ke UII. Dia diuji, akhirnya menjadi mahasiswa teladan Yogyakarta. Sesudah itu dibawa ke Jakarta. Entah nomor berapa di Jakarta, saya tidak tahu.
Apa nomor satu, dan dia naik haji gratis. Jadi, mereka itu di antaranya tahu cara belajar, mempunyai mental di Gontor ini.
Ini bagi kami sudah bahagia, bagi saya mendengarnya seperti upah saya di dunia. Ada banyak yang seperti itu, dari KMI ini kalian sudah bersyukur. Kemudian sekarang dalam liburan ini kami mencoba, saya mencoba kirim surat kepada orangtua. Minta laporan, “Anak bapak selama di rumah bagaimana?” Untuk supaya sama-sama menjaga.
Jadi, pendidikan di sini nanti sampai di rumah bisa dilanjutkan.
Apa kata orang, wah macam-macam. Di antaranya ya menggembirakan, di antaranya menganggap kami sudah sukses. Tapi sebenarnya belum sukses. Tapi cukuplah, katakan seperti permulaan sukses. Tahu perbedaannya anak yang pernah belajar di sini dan tidak belajar di sini. Itu orangtua tahu.
Tadi ada surat terakhir datang, sudah saya baca, tapi belum saya serahkan kepada bagiannya. Orangtuanya berterima kasih karena anaknya ada perubahan. Tapi ada yang lain lagi, ada yang mungkin dibesar-besarkan. Selama liburan, anaknya tidak berhenti, terus berdakwah ke mana-mana, mengajar di sana sini, dan lain sebagainya. []





















