مَنْ عَرفَ بعُدْ َ السَّفرَ اسْتعَدَّ
“Barangsiapa yang tahu jauhnya perjalanan hendaknya ia bersiap-siap.”
Menata kembali niat dengan yang baru atau tajdidu an-niyah sudah tak asing bagi setiap santri karena para guru dan kiai secara lugas senantiasa mengingatkan pentingnya menata niat dan semangat baru untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Sebagai seorang Muslim, sudah sepatutnya selalu mengevaluasi setiap perbuatannya. Dalam ungkapan fenomenal disinggung secara tegas, Muslim yang beruntung ialah yang lebih baik dari hari lampau, dan Muslim yang merugi ialah yang lebih buruk dari hari kemarin.
Manusia itu layaknya hari-hari panjang, setiap berlalu sebagian hari darinya berlalu pula sebagian dirinya. Makna pengembangan diri agar lebih baik ini memiliki keterkaitan erat dengan waktu, yaitu bagaimana kita memanfaatkan waktu sebaik-baiknya.
“Demi masa! Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih, serta saling mengingatkan dalam kebenaran dan kebaikan.” (QS. al-Ashr [103]: 1-3)
Dalam Islam, iman dan amal itu satu paket. Salah satu amalan yang paling berkaitan dalam menyambut tahun baru, bulan baru, peran baru yaitu resolusi, yakni merancang secara detail, menyadari peran atau posisi diri, dan membuat perencanaan matang terkait target jangka pendek maupun jangka panjang.
Rancangan itu dibuat secara spesifik dengan menganalisis kesalahan di hari lampau untuk menjadi perbaikan ke depan agar tidak jatuh pada lubang yang sama untuk kedua kalinya.
Langkah pertama yang perlu dilakukan ialah menyadari hakikat diri, refleksi tujuan saat ini, sudah sejauhmana kebermanfaatan disebarluaskan.
Untuk dapat mengenal diri, dapat melalui indikasi 5W-1H (What, Why, When, Who, Where, How). Apa sejatinya kehidupan ini? Kenapa kita diberi kesempatan? Kapan durasi kehidupan kita berakhir? Siapa sejatinya kita di mata Allah SWT? Ke mana segala kenikmatan ini bermuara? Bagaimana kita melihat dunia ini?
Kenapa semua pertanyaan itu perlu? Kenapa perlu mengenal diri? Sebab tak mungkin kita membuat rencana tanpa mengetahui nilai yang diperjuangkan. Jika tidak merencanakan masa depan dengan baik, sama saja kita tengah merencanakan kegagalan. Berjalan tanpa peta tak akan sampai pada tujuan. Dalam Islam, resolusi ini bukan hal yang ambigu.
Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. al-Hasyr [59]: 18)
Artinya, seorang Muslim dibiasakan untuk berpikir futuristik dan selangkah lebih maju. Bukan hanya memikirkan kehidupan atau kenikmatan sesaat, tapi berpikir peran apa yang akan dijalankan esok. Sudahkah berbuat baik untuk esok hari? Sudahkah mendalami peran yang Allah amanatkan kepada dirinya?
Dengan begitu, evaluasi menjadi batu loncatan untuk menciptakan revolusi perubahan dalam setiap pergerakan. Segala kegiatan diniatkan untuk meninggikan syiar dakwah agama Allah SWT. Barangsiapa yang bertambah ilmu tapi tidak bertambah petunjuk baginya, Allah tidak akan tambahkan kecuali bertambah jauh dari-Nya. Wallahu a’lam. []
























