London, Gontornews — Jurnal medis, British Medicine Journal, Rabu (10/3/2021), merilis sebuah penelitian yang mengungkap bahwa varian baru B117 lebih menular dan mematikan ketimbang varian virus korona sebelumnya. Sejak Inggris mengonfirmasi kasus pertama, varian B117 telah menyebar ke lebih dari 100 negara di dunia.
Penelitian tersebut membandingkan tingkat kematian warga Inggris terpapar Covid-19 varian baru dengan mereka yang terpapar virus varian lama. Hasilnya, angka kematian akibat Covid-19 varian B117 meningkat secara signifikan ketimbang varian sebelumnya.
Tidak hanya itu, penelitian juga mengungkap bahwa varian B117 memiliki 23 mutasi dalam kode genetiknya. Beberapa mutasinya, bahkan, membuat virus varian baru tersebut jauh lebih menular ketimbang varian virus sebelumnya. Para ilmuwan mengatakan prosentase penularan varian baru B117 meningkat hingga 40-70 Persen dari virus asalnya.
Secara teknis, penelitian tersebut melibatkan pengambilan sampel dari 54.906 pasien Covid-19. Dari sampel tersebut, 227 kematian disebabkan oleh varian baru B117 yang berbanding 141 kematian yang disebabkan oleh varian lain.
“Ditambah dengan kemampuannya untuk menyebar dengan cepat, varian baru B117 telah menjadi ancaman yang perlu ditanggapi secara serius,” ungkap peneliti asal Exeter University, Robert Challen, yang dikutip Reuters.
Pakar independen mengatakan temuan ini menambah bukti awal yang menghubungkan varian B117 dengan peningkatakn risiko kematian akibat Covid-19.
Pada awal tahun, temuan awal dari penelitian ini telah dipresentasikan kepada pemerintah Inggris oleh para ahli di panel New and Emerging Respiratory Virus Threats Advisory atau NERVTAG.
Ahli virologi dan Profesor onkologi molekular dari Warwick University, Lawrence Young, mengatakan a mekanisme yang dipaparkan oleh varian B117 belum jelas. Namun, ia menduga jika tingkat replikasi virus dan penularan yang tinggi bisa jadi alasan dari meningkatknya angka kematian akibat varian ini.
Young juga mengingatkan bahwa varian B117 bisa memicu lonjakan infeksi di seluruh Eropa. [Mohamad Deny Irawan]




















