Dulu, ketika masih culun di dunia jurnalistik alias anyaran jadi wartawan, saya punya senior yang sangat idealis. Saya katakan senior karena usianya jauh di atas saya, kira-kira kini sepantaran Ketua PWI Pusat, Margiono. Ketika saya masih baru belajar membuat berita, dia sudah piawai menulis features, cerpen, esai yang rancak dan berbobot.
Saya katakan idealis, karena dia selalu mengobarkan semangat membela kepentingan rakyat daripada membela penguasa atau pejabat. Ketika banyak wartawan berusaha melacurkan diri untuk pejabat, dia malah menghindarinya. Seruan darinya yang selalu saya ingat sampai sekarang adalah; Wartawan Dilarang Bersekutu dengan Pejabat (Penguasa). Wartawan yang bersekutu dengan pejabat adalah “WTS”. Pelacur.
“Jika pers ingin tegak sebagai pilar demokrasi, hindari wartawan bersekutu dengan pejabat. Jika profesi wartawan ingin punya citra, netral dan wibawa, jangan sekali-kali berdansa bersama pejabat. Jangan mau menerima angpao, apalagi memintanya,” pinta senior. Zaman old, memang belum ada budaya wartawan minta proyek atau minta iklan, seperti zaman now.
Saya sebagai yunior pun manggut-manggut mendapat wejangannya. “Saya sangat setuju, wartawan tidak boleh bersekutu dengan pejabat korup dan sontoloyo. Tapi, bagaimana dengan pejabat yang berprestasi. Apakah wartawan tetap tidak boleh menulis pejabat yang berprestasi itu,” tanya saya.
Dengan penuh semangat senior menjawab, “Tidak boleh. Pejabat atau penguasa itu digaji besar oleh rakyat. Semua kebutuhan pejabat dan keluarganya sudah dijamin oleh negara. Dia mendapatkan semuanya. Tahta, kuasa, dan kehormatan. Maka, jika ada pejabat berprestasi itu hal biasa. Ya, hal biasa.”
Masih kata senior bahwa, pejabat itu memang harus berprestasi. Jika tidak berprestasi dan sontoloyo, itu yang harus kita kritik. Jika perlu kita gebuki (tulis). “Pejabat jangan boleh tidur nyenyak. Pejabat harus bekerja keras dan berprestasi untuk seluruh rakyatnya. Bukan untuk dirinya, keluarga, golongan, dan kepentingannya sendiri,” tandas senior.
Saking idealisnya senior, akibatnya dia dibenci dan dimusuhi para pejabat. Tapi, dia geming. Tetap pada marwahnya yang lurus sebagai wartawan. Enggan bersekutu dengan penguasa. Risikonya, hingga meninggal dunia dia tidak memiliki apa-apa. Ketika ajal menjemput pun dia masih tinggal di rumah kontrakan.
Untuk ini, atas sikapnya yang idealis sebagai wartawan itu, saya setiap Hari Pers Nasionak (HPN) selalu mengenangnya. Bahkan secara khusus berdoa untuk almarhum semoga mendapat tempat yang layak di sisi-Nya. Tapi, pada perayaan HPN Ke-32 ini, hati saya sedih.
Tatkala mendengar sayup-sayup kabar ada senior dengan terang-terangan “menjilat” pejabat. Menyerukan agar warga Sumbar, tempat HPN Ke-32 digelar, untuk memilih pejabat itu lagi. Memprihatinkan jika tak boleh dikata menjijikkan. Maaf, semoga PWI bukanlah kumpulan para WTS. Selamat HPN Ke-32.





















