Ouagadougou, Gontornews — Pemimpin baru Burkina Faso, Ibrahim Traore menuduh presiden yang digulingkannya dalam kudeta militer pada hari Jumat (30/9) merencanakan serangan balasan, yang berakibat pada munculnya kekerasan yang berlanjut pada hari Sabtu.
Traore mengatakan bahwa Presiden terguling Paul-Henri Damiba bertanggung jawab atas tembakan yang dilaporkan pada hari sebelumnya di ibukota Ouagadougou. Dia menambahkan bahwa Damiba telah berlindung di pangkalan Prancis.
“Kami telah berhasil menenangkan situasi,” kata Traore.
Namun Kementerian Luar Negeri Prancis membantah klaim pemimpin kudeta itu tentang keterlibatan Prancis.
Pernyataan Traore muncul di tengah kecaman atas kudeta militer, yang kedua terjadi di negara Afrika Barat dalam kurun waktu delapan bulan. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mendesak “semua aktor untuk menahan diri dari kekerasan dan mencari dialog.”
Keberadaan Damiba tidak diketahui setelah kudeta militer itu.
Pada Sabtu sore masih ada tanda-tanda kekerasan di ibukota Ouagadougou, meskipun relatif tenang pada dini hari.
Dilaporkan ada tembakan di pusat kota. Pasukan keamanan berkeliling dalam konvoi, sementara helikopter melayang di atas. Pasukan militer memblokir beberapa jalan utama kota, termasuk di sekitar istana presiden.
Kantor berita AFP mengatakan bahwa toko-toko akan segera tutup setelah awalnya dibuka untuk bisnis di pagi hari.
Kedutaan Prancis menyarankan warganya untuk membatasi pergerakan mereka, dengan mengatakan bahwa “situasi tetap tegang di Ouagadougou.” Warga negara Prancis di negara itu diyakini berkisar antara 4.000 sampai 5.000 orang. []






















