Moskow, Gontornews — Rusia mengatakan pada hari Sabtu (1/10) bahwa mereka telah menarik pasukannya dari kota Lyman di Ukraina, sebuah kota garis depan di wilayah Donetsk yang dianeksasi oleh Rusia.
Kemunduran tersebut merupakan kekecewaan besar bagi Presiden Vladimir Putin, yang mengumumkan pencaplokan wilayah Donetsk, bersama dengan tiga wilayah lainnya hanya sehari sebelumnya.
“Sehubungan dengan terciptanya ancaman pengepungan, pasukan sekutu ditarik dari pemukiman Krasny Liman ke jalur yang lebih menguntungkan,” kata Kementerian Pertahanan Rusia, menggunakan nama Rusia untuk kota tersebut.
Kementerian mengklaim bahwa pasukan Rusia telah menimbulkan kerusakan besar pada pasukan Ukraina sebelum mereka ditarik.
Lyman telah menjadi pusat logistik dan transportasi utama bagi pasukan pendudukan Rusia.
Sementara itu pejabat Ukraina telah melaporkan sebelumnya pada hari Sabtu bahwa Lyman yang pertama kali dikepung dan kemudian kembali ke tangan Ukraina.
Angkatan udara Ukraina mengatakan bahwa mereka telah mengusai kota dan kepala staf presiden Ukraina memposting foto-foto bendera Ukraina yang dikibarkan di pinggiran kota.
Sebelumnya pada hari Sabtu, gubernur Ukraina di wilayah tetangga Luhansk, Serhiy Hayday, telah mengatakan bahwa hampir 5.000 tentara Rusia di Lyman dikepung tanpa sarana untuk melarikan diri, sebuah klaim yang tidak dapat diverifikasi.
Hayday mengatakan bahwa setelah Lyman, wilayahnya di Luhansk akan menjadi bidikan militer Kyiv berikutnya.
Pada hari Jumat, Putin menyatakan empat wilayah Ukraina menjadi wilayah Rusia menyusul apa yang disebut referendum kemerdekaan.
Selain Donetsk, dia mengatakan Luhansk, Kherson dan Zaporizhia sekarang menjadi “empat wilayah baru” Rusia.
Putin pekan ini meningkatkan ancaman kekuatan nuklirnya dalam pidato yang mengumumkan pencaplokan ilegal empat wilayah Ukraina.
Menggunakan retorika anti-Barat yang paling agresif hingga saat ini, ia membingkai perolehan wilayah Ukraina baru-baru ini sebagai bagian dari upaya yang diatur AS untuk menghancurkan Rusia.
Bulan lalu, pasukan Kyiv merebut kembali sebagian besar wilayah, mendorong pasukan Rusia keluar dari daerah Kharkiv, memungkinkan mereka bergerak ke timur melintasi Sungai Oskil menuju Lyman dan titik strategis lainnya.
Ancaman nuklir
Menanggapi penarikan Rusia dari Lyman, Ramzan Kadyrov, pemimpin Chechnya yang menggambarkan dirinya sebagai prajurit setia Putin, meningkatkan retorika, menyerukan opsi nuklir untuk dipertimbangkan.
“Menurut pendapat pribadi saya, tindakan yang lebih drastis harus diambil, hingga deklarasi darurat militer di daerah perbatasan dan penggunaan senjata nuklir berdaya ledak arendah,” tulis Kadyrov di Telegram.[]























