Istanbul, Gontornews — Komunitas cendekiawan Muslim internasional mengecam keputusan Maroko yang melakukan normalisasi hubungan diplomatik dengan Israel, Kamis (10/12). Komunitas cendekiawan Muslim yang dimaksud yaitu International Unity of Moslem Scholar (IUMS) dan The Arab Maghreb Scholars League (AMSL).
Dalam keterangan yang dilansir Anadolu, IUMS menyebut kesepatan normalisasi Israel-Maroko jauh dari keinginan masyarakat Maroko terhadap perjuangan Palestina. β(Normalisasi ini) bertentangan dengan dukungan rakyat Maroko terhadap rakyat Palestina,β kata IUMS dalam keterangan resminya.
IUMS juga menjelaskan bahwa saat ini Israel masih menduduki wilayah Masjid Al-Aqsha, Jerusalem, tanah kami yang diberkati dan Dataran Tinggi Golan di Suriah dan mereka masih ingin mengambil lebih banyak lagi.
Sementara itu, AMSL meminta agar Rabat mengkaji kembali keputusannya untuk membangun kembali hubungan diplomatik dengan Israel. AMSL pun mendesak Maroko mengabaikan tekanan baik internal maupun eksternal untuk menyerah terhadap persoalan Palestina.
Sebagai informasi, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengonfirmasi bahwa Israel-Maroko telah menjalin hubungan diplomatik penuh. Bagi Trump, kesepakatan kedua negara merupakan terobosan bagi perdamaian Timur Tengah.
Kerajaan Maroko membenarkan pernyataan Presiden AS, Donald Trump. Pihak kerajaan bahkan berniat untuk mempercepat hubungan diplomatik dengan Israel. Meski demikian, kerajaan tetap berkomitmen untuk mendukung perjuangan Palestina.
Sejak perjanjian Oslo pada 1993 terlaksana antara Israel dan Palestina, Maroko membuka hubungan tingkat rendah dengan Israel. Namun, pasca pemberontakan (Intifada) pada tahun 2000, Maroko memilih untuk membekukan hubungan diplomatik dengan Israel.
Maroko sendiri menjadi negara Arab keempat setelah Uni Emirat Arab, Bahrain dan Sudan yang menormalisasi hubungan diplomatik dengan Israel. [Mohamad Deny Irawan]





















