Ponorogo, Gontornews — Wakil Ketua MPR RI Dr Hidayat Nur Wahid MA berbagi pengalaman yang sangat berharga, ketika dirinya merebut kepemimpinan OKI dari Iran. Ketika itu, alumnus Gontor tahun 1978 ini menjabat sebagai Ketua Badan Kerjasama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI periode 2009 – 2012.
Hidayat bercerita, prestasi ini diperankan dari lobi yang dilakukannya pada konferensi parlemen OKI se-Asia di Bandung pada tahun 2009. Sebagai tuan rumah, ujar Hidayat, di antara yang ingin bertemu adalah pimpinan delegasi parlemen dari Iran yaitu Maulana Abu Thurobi. Maulana menyampaikan terima kasih kepada Indonesia telah menggelar acara dengan sukses.
Namun Iran juga menyampaikan keinginanya untuk mengambil kepemimpinan OKI pada pemilihan parlemen presiden OKI berikutnya.
“Iran menghendaki untuk memimpin parlemen OKI karena pada periode 2011 – 2013 akan ada ulang tahun parlemen OKI dan akan dibesarkan di Iran,” bebernya.
Hidayat berkata, “Ya Maulana, antum begitu luar biasa mengakui Indonesia berparlemen maka berikan kepada kami untuk memimpin parlemen OKI. Hidayat juga menegaskan dalam diplomasinya, tidak ada masalah peringatan parlemen OKI digelar di Iran tapi presidennya tetap dari Indonesia.
“Kami sampaikan hal itu tidak ada masalah, kita akan besarkan peringatan parlemen OKI di Iran tapi presidennya dari Indonesia,” terangnya.
Rupanya Iran tak menyerah dengan keinginanya untuk mempimpin OKI. Hidayat melanjutkan cerita, ketika ada acara parlemen di Uganda, delegaasi Iran tetap ingin menjadi pemimpin OKI.
Tapi Hidayat yang juga hadir pada pertemuan itu segera mengingatkan kesepakatan parlemen di Bandung tahun 2009.
“Dan akhirnya parlemen Indonesia mengukir sejarah sebagai presiden parlemen OKI yang bahkan eksekutif belum pernah mendapatkannya,” terang pria kelahiran Klaten, 8 April 1960, ini.
Menurut Hidayat, terpilihnya Indonesia sebagai presiden Parliamentary Union of the OIC Members States (PUIC) atau Persatuan Parlemen Negara Anggota Organisasi Kerjasama Islam adalah salah satu target yang diemban BKSAP di bawah kepemimpinannya.
Uniknya, keberhasilan diplomasi itu menurut Hidayat tak lepas dari pengalamannya belajar di Gontor yang memberikan kemampuan bahasa Arab sehingga bisa membuat sejarah Indonesia menjadi presiden OKI atau sekjen OKI.
“Sesungguhnya pendidikan di Gontor memberikan modal untuk memberikan solusi termasuk memberikan keuntungan Gontor sendiri,” paparnya. [Ahmad Muhajir/Rus]





















