Siapa tak kenal Dr Muhammad Akhyar Adnan MBA Ak, salah satu pakar ekonomi syariah Indonesia. Lulusan Pondok Modern Gontor ini masyhur sebagai ilmuwan akuntansi syariah. Maklum saja selepas dari Gontor, ia memilih bidang akuntansi sebagai pilihannya.
“Dulu kakak saya yang mengarahkan kalau ke Mesir jadi ahli fikih, dan sebagainya. Di sisi lain umat Muslim juga perlu mengerti akuntansi, mengerti ekonomi dan sebagainya. Itu salah satu yang mendorong saya, untuk mencoba berkiprah di bidang yang berbeda. Sehingga saya memilih Fakultas Ekonomi UGM dan secara spesifik saya ambil akuntansi,” ujar Associated Professor Department of Accounting, Kulliyah/Faculty of Economics and Management Science, International Islamic University Malaysia (IIUM), 2006 – 2011 itu.
Akhyar menambahkan, ketika lanjut program S3, Bank Muamalat baru berdiri. “Ini semakin menarik bagi saya. Karena Bank Muamalat berbasis syariah. Namun, akuntansi yang kita kenal ketika itu dirasakan dari Barat. Akuntansi kan ilmu alat. Apakah cocok alat dari Barat ini dipakai untuk bank yang berbasis syariah. Inilah yang mendorong saya untuk mencoba mempelajari lebih jauh bagaimana akuntansi di perbankan syariah,” ungkapnya kepada Gontornews.com.
Akhyar menjelaskan, akuntansi ternyata berbasis pada Islam. Buktinya di QS al-Baqarah ayat 282 yang merupakan ayat akuntansi Islam itu sangat tegas tertulis bahwa Allah memerintahkan untuk melakukan penulisan secara benar atas segala transaksi yang pernah terjadi selama melakukan muamalah.
Jadi al-Qur’an sangat lengkap karena mengcover semua aspek kehidupan manusia. Termasuk akuntansi dan tijarah.
“Di al-Qur’an itu kan beberapa kali diungkapkan, tijarah, al-bay’ atau al-buyu’ dan lain sebagainya. Jadi, sebetulnya akuntansi yang dalam pemahaman saya belakangan ini terilhami oleh Islam,” katanya.
Hanya saja dalam perkembangannya di Barat seiring dengan berkurangnya peradaban Islam masuklah sekularisme dan itu yang mewarnai akuntansi saat ini.
“Jadi basic-nya itu sebenarnya dari Islam. Tapi perkembangannya, karena masuknya kapitalisme, liberalisme, materialisme, sampai hedonisme, itu membuat akuntansi yang ada di Barat berbeda sedikit dengan apa yang kita yakini. Di mana perbedaannya itu lebih kepada ruhnya,” bebernya.
Penulis buku Akuntansi Syariah: Arah Prospek dan Tantangannya ini mengaku ingat betul nasihat-nasihat KH Ahmad Sahal dan KH Imam Zarkasyi. Menurutnya, nasihat-nasihat itu sangat membuka wawasannya.
Kendati di Gontor hanya beberapa tahun saja, Akhyar merasa bahwa banyak hal yang ia rasakan selepas studinya dari Gontor.
“Banyak hal ketika di Gontor kita dapatkan, baru kita sadari maknanya dan kedalamannya ketika di luar,” ujarnya. [Muhammad Khaerul Muttaqien/Rus]





















