Beijing, Gontornews — Virus Korona di Cina terus menggeliat. Otoritas kesehatan setempat mengonfirmasi bahwa jumlah kematian akibat virus Korona ini mencapai 17 orang dari 540 kasus yang terkonfirmasi. Pemerintah menduga bahwa virus ini berasal dari satwa liar yang diperdagangnkan secara ilegal di Cina.
Virus ini disebut-sebut berasal dari pasar hewan yang terdapat di pusat kota Wuhan, Cina. Virus ini seringkali dikaitkan dengan penyakit SARS yang mengakibatkan lebih dari 800 warga Cina meninggal dunia.
Wakil Menteri Kesehatan Cina, Li Bin, mengatakan bahwa pemerintah mengindikasikan bahwa mobilitas masyarakat yang sangat tinggi sebagai penyebab masifnya penyebaran virus ke sejumlah wilayah baik di Cina maupun di luar Cina.
βPeningkatan mobilitas masyarakat secara objektif telah meningkatkan risiko penyebaran wabah,β ungkap Wakil Menteri Kesehatan Cina, Li Bin, sebagaimana dilansir Reuters.
Organisasi Kesehatan Dunia, WHO, belum mengonfirmasi apakah wabah tersebut masuk kategori darurat kesehatan global.
Sejak virus ini menyebar dalam beberapa pekan terakhir, sebagian besar masyarakat Cina lebih memilih untuk membatalkan perjalanan, membeli masker, menghindari tempat-tempat umum seperti bioskop hingga pusat perbelanjaan.
βCara terbaik untuk menaklukkan rasa takut adalah dengan menghadapi rasa takut,β kata seorang warga Cina di laman pencarian milik Cina, Weibo.
Selain Cina, wabah ini kabarnya telah masuk ke sejumlah wilayah berpopulasi tinggi seperti Beijing, Shanghai, Makau hingga Hong Kong dan sejumlah negara tetangga seperti Thailand, Taiwan, Korea Selatan, Jepang, hingga Amerika Serikat.
Sementara itu, media lokal, China Daily, mengonfirmasi 544 kasus pasien terjangkit virus korona tersebut. Yang terbaru, korban tewas akibat virus ini berasal dari provinsi Hubei.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memastikan bahwa otoritas kesehatan Amerika Serikat siap unutk menangani penyebaran virus korona Wuhan di wilayahnya.
βKami pikir, (penanganan virus) akan ditangani dengan sangat baik,β tutup Trump dalam kunjungannya di Davos, Swiss. [Mohamad Deny Irawan]





















