Beijing, Gontornews — Belum genap sebulan membuka penguncian wilayah, Pemerintah Wuhan kembali mengidentifikasi klaster baru kasus penularan COVID-19. Setidaknya, lima kasus baru terkonfirmasi di sebuah kompleks perumahan di Wuhan, Senin (11/5). Temuan ini sekaligus membuat pemerintah Cina mewaspadai gelombang kedua COVID-19.
“Kita harus dengan tegas menangani kasus yang mengandung risiko rebound,” ungkap otoritas kesehatan Wuhan yang dilansir Reuters.
Semua kasus terbaru di Wuhan sebelumnya terkonfirmasi tanpa gejala. Otoritas kesehatan setempat menambahkan bahwa para pasien positif yang terkonfirmasi menularkan virus tanpa menunjukkan adanya tanda-tanda klinis.
Sejak kuncian dicabut, Pemerintah telah melakukan sekitar 47.000 tes asam nukleat pada warga Wuhan. Mereka pun berencana mengintensifkan pengujian asam nukleat selama 10 hari ke depan.
Sejauh ini, Cina mengonfirmasi 82.918 kasus COVID-19 dengan 4.633 kasus meninggal dunia. Meski demikian, otoritas kesehatan tidak memasukkan penularan tanpa gejala sebagai kasus COVID-19 yang terkonfirmasi.
“Kita perlu menyelidiki dan menentukan asal infeksi dan rute penularannya,” ungkap Jurubicara Komisi Kesehatan Nasional Cina, Mi Feng.
Secara khusus, Pemerintah Cina tengah mengintensifkan perhatian mereka ke tujuh provinsi yang berpotensi meningkatkan risiko gelombang COVID-19 jilid kedua. Sebut saja Provinsi Liaoning dan Heliongjiang yang berbatasan langsung dengan Rusia.
Sementara kasus-kasu baru yang eterjadi di Mongolia sebelah Utara melibatkan pelancong dari luar negeri. Sedangkan total kasus COVID-19 tanpa gejala di Cina turun menjadi 12 kasus pada 10 Mei lalu. [Mohamad Deny Irawan]




















