Hanoi, Gontornews — Perdana Menteri Nguyen Xuan Phuc, mengatakan bahwa penyebaran Covid-19 di Vietnam dalam beberapa hari terakhir sangat tinggi. Setelah 3 bulan tanpa transmisi domestik, Vietnam mengonfirmasi klaster Covid-19 di Kota Danang pada 25 Juli silam. Sejak saat itu, penambahan kasus Covid-19 meningkat drastis.
Vietnam mengonfirmasi 37 kasus Covid-19 baru pada Jum’at (7/8). Secara total, Vietnam mengonfirmasi 784 kasus Covid-19 dengan 10 kasus kematian.
“Risiko penularan (Covid-19) di masyarakat sangat tinggi. Kami membutuhkan tekad, solidaritas dan tanggungjawab dari sistem politik untuk mengambil langkah-langkah strategis dan menentukan untuk dua pekan ke depan,” ungkap PM Nguyen Xuan Phuc, sebagaimana dilansir Reuters.
Sejak 25 Juli 2020, Kota Danang telah mengonfirmasi lebih dari 200 kasus baru Covid-19. Pemerintah memprediksi bahwa situasi yang terjadi di Danang berada di bawah kendali mereka dan berpotensi memuncak dalam 10 hari ke depan.
Pemerintah, tambah Phuc, menginstruksikan pembatasan ketat di Danang. Selain itu, Pemerintah juga telah mengalihfungsikan sebuah lapangan sepakbola menjadi Rumah Sakit Darurat berkapasitas 1.000 tempat tidur andai pelayanan Rumah Sakit kewalahan. Rumah Sakit Darurat tersebut, rencananya, juga akan digunakan sebagai lokasi isolasi kasus Covid-19.
Phuc meminta otoritas terkait untuk mempercepat tes swab bagi warga. Bagi Phuc, akurasi hasil tes merupakan kunci untuk mencegah penyebaran Covid-19. Sejauh ini, otoritas Hanoi telah menguji ulang puluhan ribu orang bagi warga yang kembali dari kota Danang.
Guna mengintensifkan pelacakan, Pemerintah Vietnam meluncurkan aplikasi Bluezone. Menteri Kesehatan Vietnam mengklaim bahwa aplikasi pelacak warga terinfeksi Covid-19 tersebut telah diunduh 8,5 juta kali.
Dari 298 kasus Covid-19 yang terkonfirmasi selama dua pekan terakhir, 21 kasus terdeteksi melalui aplikasi ini. [Mohamad Deny Irawan]






















