Khartoum, Gontornews — Pemerintah Sudan mulai kewalahan dalam menanganani COVID-19. Terbatasnya ketersediaan ventilator dan melambatnya bantuan internasional membuat perjuangan Sudan dalam merespon COVID-19 semakin memberat.
Saat ini, tenaga medis Sudan masih mampu menangani seluruh pasien. Namun, mereka khawatir bahwa sistem perawatan kesehatan tidak mampu menangani andai jumlah kasus meningkat.
“Kami mewarisi sistem kesehatan yang runtuh dan ekonomi dalam krisis dari rezim sebelumnya. Satu-satunya pilihan kami adalah tindakan pencegahan untuk menghentikan penyebaran epidemi di negara ini,” kata Menteri Kesehatan Sudan, Akram Ali Altom, kepada Reuters.
Sudan telah meningkatkan anggaran kesehatannya hingga 200 persen. Sekalipun peningkatannya fantastis, mereka tetap membutuhkan 120 juta dolar AS guna melawan pandemi serta 150 juta dolar tambahan untuk sektor obat-obatan hingga Juni.
Sejauh ini, Sudan memiliki 140 kasus penularan dengan 13 kematian akibat COVID-19. Mayoritas pasien infeksi berasal dari Khartoum, ibukota Sudan. Pemerintah Sudah telah memberlakukan penguncian wilayah dalam tiga pekan terakhir.
Kementerian kesehatan Sudan berencana untuk menyiapkan 1.433 tempat tidur bagi pasien COVID-19. Di lain sisi, mereka melaporkan hanya memiliki 300-400 ventilator yang mungkin digunakan oleh para pasien. Seorang dokter di Jabra, Khartoum, mengatakan 200 dari total 400 ventilator masih dalam perjalanan.
“Pada situasi normal di Sudan, anda tidak dapat menemukan ventilator. Maka situasi tersebut akan berubah menjadi bencana. Mereka yang memiliki kekebalan akan hidup. Sementara yang tidak memiliki kekebalan hidup, ia pun harus berdoa,” pungkas Abdelhameed Elbushra, dokter di fasilitas perawatan utama di Jarab, Khartoum. [Mohamad Deny Irawan]





















