Abstrak
Tulisan ini merupakan refleksi filosofis atas perjalanan intelektual dan spiritual Ronggowarsito yang pernah menimba ilmu di Pesantren Tegalsari Ponorogo di abad 18. Sosok yang pada masa mudanya dikenal “mbeling” menyimpang dari disiplin pesantren, justru menjelma menjadi pujangga besar yang menerangi zamannya.
Makalah ini tidak berhenti pada deskripsi historis, melainkan menyingkap paradoks mendasar dalam pendidikan: Bahwa penyimpangan tidak selalu berlawanan dengan pencerahan, bahkan dalam batas tertentu dapat menjadi jalan menuju kesadaran yang lebih dalam. Dari sini, pendidikan dipahami bukan sebagai proses linear, melainkan dialektika antara keteraturan dan kegelisahan, antara norma dan pencarian makna.
Mukadimah: Pendidikan sebagai Ruang Dialektika
Pesantren, sebagai lembaga pendidikan Islam tertua di Nusantara, tidak hanya berfungsi sebagai pusat transmisi ilmu, tetapi juga sebagai ruang dialektika antara nilai dan realitas, antara idealitas dan kemanusiaan.
Dalam perspektif filosofis, pendidikan tidak pernah berlangsung dalam garis lurus. Ia selalu bergerak dalam ketegangan: antara yang seharusnya dan yang terjadi, antara disiplin dan kebebasan, antara ketaatan dan kegelisahan batin.
Dalam konteks inilah, sosok Ronggowarsito menjadi menarik. Ia bukan sekadar individu, tetapi representasi dari dialektika manusia dalam mencari kebenaran—melalui jalan yang tidak selalu sesuai dengan harapan institusi.
Paradoks Kenakalan: Penyimpangan sebagai Awal Kesadaran
Dalam tradisi pendidikan formal, penyimpangan sering dimaknai sebagai kegagalan. Namun dalam perspektif filosofis, penyimpangan dapat dipahami sebagai bentuk kegelisahan eksistensial—sebuah tanda bahwa jiwa belum menemukan makna yang memuaskan.
Kisah Ronggowarsito yang dikenal kurang disiplin, sering keluar pondok, bahkan meninggalkan pesantren tanpa pamit, dapat dibaca bukan semata sebagai kenakalan, tetapi sebagai ekspresi pencarian.
Di sinilah muncul paradoks: bahwa apa yang tampak sebagai penyimpangan, sesungguhnya bisa menjadi jalan menuju kesadaran yang lebih otentik.
Pandangan Batin Kiai: Melihat yang Tak Tampak
Kisah tentang “sinar di dahi” yang disaksikan oleh Kiai Ageng Hasan Besari, ketika beliau menuju masjid sebelum fajar menyingsing, ternyata itu milik santri Ronggowarsito, yang sedang tidur nyenyak di serambi masjid —sebagaimana dituturkan oleh KH Akrim Mariyat, pimpinan Pondok Modern Gontor ketika berkunjung ke PPM Darel Azhar Rangkasbitung kepada penulis—mengandung dimensi “filosofis transendental Ilahiyah” yang dalam yang sulit untuk dijelaskan dengan logika.
Nur Ilahiyah tersebut bukan sekadar fenomena fisik, tetapi simbol “basyirah kiai” dari potensi batin yang belum teraktualisasi.
Dalam kerangka ini, kiai tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi sebagai pembaca hakikat hayati —yang mampu melihat kemungkinan di balik misteri kenyataan, dan masa depan di balik keadaan saat ini.
Di sinilah pendidikan mencapai dimensi tertingginya: bukan sekadar mentransfer ilmu, tetapi menyingkap potensi terdalam para santrinya.
Transformasi: Jalan Berliku Menuju Pencerahan
Perjalanan Ronggowarsito yang berliku menunjukkan bahwa pencerahan tidak selalu lahir dari kepatuhan yang sempurna atau sebagai santri ideal atau “Santri Mumtaz”, tetapi sering kali dari pergulatan batin yang panjang yang terkadang sedikit menyimpang.
Konsep tazkiyatun nafs dalam tradisi Islam memperlihatkan bahwa penyucian jiwa bukan proses instan, melainkan perjalanan yang melibatkan jatuh dan bangun dalam ritme kehidupan 24 jam di pesantren.
Dalam kerangka filosofis, ini merupakan proses menjadi—becoming—di mana manusia tidak statis, tetapi terus bergerak menuju kesempurnaan yang tidak pernah selesai.
“Live is beginning fourty“. Sudah selayaknya para pendidik untuk tidak tergesa-gesa menstigma santri gagal.
Analisis Filosofis: Pendidikan sebagai Proses Menjadi:
- Manusia sebagai Potensi, Bukan Produk Jadi
Pendidikan tidak boleh melihat manusia sebagai hasil akhir, tetapi sebagai potensi yang terus berkembang. Label “nakal” merupakan reduksi yang menutup kemungkinan taqdir mu’allaq menuju taqdir mubrom.
- Penyimpangan sebagai Bagian dari Proses.
Dalam batas tertentu, penyimpangan merupakan bagian dari dinamika pertumbuhan. Ia menjadi ruang di mana manusia menguji, meragukan, dan akhirnya menemukan.
- Peran Pendidik sebagai Penuntun, Bukan Penghakim.
Pendidik bukan sekadar penjaga aturan, tetapi penuntun perjalanan. Ia tidak hanya mengoreksi, tetapi memahami dan mengarahkan.
- Takdir sebagai Misteri yang Bertumbuh.
Takdir keulamaan tidak hadir secara tiba-tiba, tetapi tumbuh melalui proses yang sering kali tidak terbaca oleh mata lahiriah.
Relevansi Kontemporer: Membaca Ulang Pendidikan Pesantren
Dalam konteks pesantren hari ini, fenomena santri “bermasalah” sering dipandang sebagai gangguan terhadap sistem.
Namun refleksi filosofis dari kisah ini mengajak kita untuk melihat lebih dalam:
Bahwa di balik kegelisahan, terdapat energi pencarian.
Di balik pembangkangan, terdapat keinginan untuk menemukan makna.
Di balik penyimpangan, terdapat kemungkinan pencerahan.
Dengan demikian, pendidikan pesantren perlu bergerak dari pendekatan yang semata normatif menuju pendekatan yang lebih humanistik dan transformatif serta dialektika.
Ihtitam: Dari Penyimpangan Menuju Pencerahan
Kisah Ronggowarsito menyingkap satu kebenaran mendasar: Bahwa jalan menuju “nur Ilahiyah” tidak selalu lurus.
Apa yang hari ini tampak sebagai penyimpangan, bisa jadi merupakan fase awal dari pencerahan yang lebih dalam.
Maka pendidikan sejati bukanlah sekadar menertibkan perilaku, tetapi menuntun jiwa menuju kesadaran. Bukan sekadar menjaga aturan, tetapi membuka jalan bagi tumbuhnya makna.
Karena dalam setiap manusia—betapa pun “liarnya”—selalu tersimpan kemungkinan untuk menjadi tokoh bagi zamannya. Wallāhu a‘lam bish-shawāb. []
DA, 9 April 2026





















