Andar Nurbowo, Alumni EHESS Paris, Peneliti di RSIS NTU Singapura, kader muda Muhammadiyah
Tanggal 7 Januari 2015 silam, Charlie Hebdo dirangsek kelompok bersenjata. Majalah produsen satiris Prancis ini baru saja memuat kartun Nabi yang diagungkan umat Islam sedunia. Pelakunya adalah keturunan imigran Muslim. Sontak, debat publik kembali memanas: apakah Islam itu sumber radikalisme, atau radikalisme itu menggunakan Islam?
Dua sarjana terkemuka Prancis, yang menekuni Islam dan politik, Olivier Roy dan Gilles Kepel terlibat debat akademik dan publik yang panas. Silang pendapat kedua sobat ini berlangsung terbuka, keras, dan sesekali, meledek serta menguliti latar masing-masing.
Kepel, Profesor dan Kepala Pusat Studi Timur Tengah di Science Po Paris, menuduh postulat “islamisation de la radicalisation” itu tak berdasar, mentah, karena Roy sepenuhnya tak bisa bahasa Arab, apalagi membaca dan mendengarkan literatur dan ceramah bahasa tersebut.
Sebaliknya, Roy membalas Kepel sebagai “Rastignac (nama tokoh dalam novel Honore de Balzac yang berkarakter ambisius, miskin dan naif) de haute niveau”. Kepel digambarkan sebagai tokoh Rastignac tingkat tinggi.
Terlepas dari penggunaan sarkasme dan satir yang itu lumrah di Prancis, kedua sarjana ini turut membantu memahamkan publik atas persoalan radikalisme, terorisme, dan juga Islam. Dalam kaca mata Roy, Islam bukanlah sumber utama, hanya marginal saja, dari kekerasan, radikalisme dan ektrimisme.
Ketiga simptoma tersebut berdiri sendiri, ada pada individu yang mengalami tekanan sosial, ekonomi dan politik.
Lalu, individu tersebut membungkus tindakannya dengan Islam. Di sinilah, argumen Roy, Islam dijadikan alat untuk melegitimasi tindakannya. Mereka melakukan islamisasi radikalisme. Pandangan Roy yang alumni filsafat ini, tampaknya, sebagaimana Marx Weber, melihat individu itu dapat memengaruhi sistem atau masyarakat.
Di seberang lain, Kepel yang lama tinggal di Mesir dan Timur Tengah melihat Roy tidak membaca Islam dari sumber aslinya: bahasa Arab. Karena itu, ia melakukan kesalahan fatal dalam postulatnya. Baginya, Islam itu sendiri yang –seperti dalam literatur primernya– menjadi sumber dari radikalisme. Jadi, simptoma kekerasan ekstrem belakangan ini adalah fenomena “radicalisation de l’Islam”.
Ceramah-ceramah di masjid tentang ajaran-ajaran radikal ini mudah didengar dan dipahami. Pandangan Kepel, yang selalu necis khas model Paris ini, tampaknya, mewarisi teori sosial khas Prancis Emile Durkheim bahwa individu itu bagian dan dipengaruhi oleh sistem atau masyarakat yang lebih luas.
Islam sebagai sebuah sistem ajaran memengaruhi tindak tanduk dan solah bawah individu umatnya. Dalam tinjauan kebijakan publik, pandangan Roy menekankan perlunya analisis komprehensif atas penyebab radikalisme, misalnya tekanan ekonomi, diskriminasi, dan ketidakadilan sosial, ekonomi, politik dan budaya.
Tidak selalu dan melulu apalagi secara grusa-grusu, mengaitkannya dengan Islam (atau agama apapun). Perlu kajian mendalam untuk mengetahui penyebab dan solusi tepatnya. Pandangan Kepel, meski menurut saya ada benarnya, mendorong pengambil kebijakan di tingkat nasional maupun internasional untuk melihat Islam sebagai sumber kekerasan dan radikalisme.
Kepel dianggap mendorong kuatnya phobia atas Islam dalam preskripsi normatif pengambil kebijakan politik. Solusi atas simptoma radikalisme dan terorisme biasanya diambil dengan mencurigai perilaku dan simbol-simbol Islam di publik. Saya membaca buku-buku kedua sarjana ini. Saya mendapat kehormatan dan kemewahan untuk menjadi mahasiswa yang berguru dan dibimbing oleh Olivier Roy.
Cara pandangnya dalam melihat persoalan sosial dan politik Islam, sedikit banyak, mempengaruhi cara pandang saya. Roy adalah seorang ilmuwan yang rendah hati, mau mendengar dan membimbing satu-satunya mahasiswa dari negeri Timur Jauh seperti saya. Saya juga membaca dan mengutip karya-karya Kepel seperti tentang jihad, Islam dan politik di Timur Tengah. Saya mengagumi style dan seleranya dalam fashion.
Jika tak menjadi ilmuwan, ia adalah seorang model Yves Laurent Saint (YLS) yang trendi dan wangi. Lebih dari itu, ia fasih dalam beretorika, menguasai bahasa Arab dan Inggris dalam kadar kefasihan tingkat tinggi. Kepel adalah model ilmuwan yang keren. Di Prancis tempat demokrasi dan republikanisme tumbuh mewangi, seorang ilmuwan adalah juga intelektual. Ia mempertanggungjawabkan pandangannya dalam tanggung jawab ilmiah yang tinggi. Ia bicara berdasarkan data dan angka, yang dihasilkan dari riset panjang dan mendalam.
Karena itu, seperti Spartacus, ia mati-matian mempertahankan marwahnya secara bermarbat seraya mengimani adagium “y a pas de prophet dans l’intelectualism francais“, tidak ada seorang nabi yang diagungkan dalam dunia intelektual Prancis. Ia mengimani postulat saintifiknya seraya membuka diri dari kritik ilmiah padanya.
Bagaimana dengan debat di negeri kita?
Saya tak berpretensi apapun. Hanya berharap, debat publik yang dihelat para sarjana, ilmuwan, dan intelektual berkarat tinggi di negeri ini tetap menjadi suluh pencerahan, yang terbebas dari bias politik yang mengangkangi postulat fakta dan angka. Debat seyogyanya adalah panggung bersama untuk merayakan kebebasan. Debat yang diintervensi oleh “bias selection” hanya akan mengurangi darojat kemuliaan seorang intelektual dan sarjana di negeri ini.





















