London, Gontornews — Bandara London City bersiap untuk menutup operasinya selama tiga hari sebagai bentuk respon terhadap unjuk rasa terkait perubahan iklim yang diinisiasi oleh komunitas Extinction Rebellion, Kamis (10/10).
Bandara London City merupakan bandara terbesar kelima di London. Banyak pelancong, pebisnis, politisi dengan rute pendek dan regional melalui bandara tersebut. Setidaknya 18.000 penumpang dijadwalkan tiba atau berangkat dari bandara dengan total 286 penerbangan terjadwal.
Komunitas Extinction Rebellion menargetkan gedung-gedung pemerintah selama beberapa hari terakhir.
“Perjalanan udara merupakan ikon dari sistem ekonomi tepat waktu kami yang rapuh. Sistem itu akan pecah, seperti yang terjadi pada climate chaos,” kata juru bicara kelompok Extinction Rebellion, Rupert Read, sebagaimana dilansir Reuters.
“Dengan mematikan bandara tanpa kekerasan. Ini menunjukkan kelemahan dari sistem transportasi yang ada di negara-negeri seperti kita, secara tidak bijaksana,” tambahnya.
Polisi London telah menangkap ratusan demonstran setelah Perdana Menteri Boris Johnson yang dianggap tidak kooperatif.
“Prioritas kami bersama adalah operasi bandara yang aman untuk meminimalkan gangguan bagi penumpang yang menggunakan bandara dalam beberapa hari mendatang,” jelas juru bicara.
Selain berencana memblokir bandara, komunitas Extinction Rebellion juga berencana untuk menduduki Docklands Light Railway (DLR) yang berdekatan serta memblokir akses jalan ke luar.
Di lain sisi, pihak bandara juga berkomitmen untuk membangun masa depan yang berkelanjutan untuk bandara dan industri penerbangan dengan target beban emisi karbon 2050. [Mohamad Deny Irawan]




















