Padang, Gontornews — Silaturahmi Kerja Nasional (Silaknas) ICMI ke-29 di Universitas Negeri Padang, Sumatera Barat, Jumat (6/12) dihadiri Wakil Presiden Ma’ruf Amin. Ma’ruf menekankan pengembangan dan perluasan industri produk halal nasional. Ia ingin Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, menjadi produsen produk halal terbesar di dunia.
Menurut Ma’ruf, saat ini produsen produk-produk halal terbesar di dunia justru negara yang bukan penduduk mayoritas Muslim. “Yang terbesar di dunia adalah Brazil, aneh ini, produk halalnya yang terbesar dari negara Brasil. Kemudian diikuti oleh Australia yang justru bukan negara dengan penduduk mayoritas Muslim,” ujar Ma’ruf dilansir Republika.
Ma’ruf mengatakan, Indonesia saat ini hanya menjadi konsumen produk halal terbesar di dunia. Menurutnya, Indonesia bahkan menjadi konsumen terbesar, dengan membelanjakan 214 miliar US dolar untuk produk halal.
Jumlah ini, kata Ma’ruf, mencapai 10 persen dari pangsa produk halal dunia. “Sepuluh persennya di Indonesia. Sayangnya kita bukan merupakan produsen dari produk-produk halal tersebut,” ujar Ma’ruf.
Karena itu, di depan cendekiawan ICMI, ia mengajak untuk mendukung pengembangan produk halal, ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia. Menurutnya, Indonesia diharapkan tidak hanya sekedar menjadi konsumen dan hanya melakukan sertifikasi halal saja.
“Sekarang ini ini kita hanya memberikan sertifikasi, mengakui atau menyetempel, mengendorse sertifikat halal dari luar negeri, tetapi kita ingin menjadi produsen dan eksportir produk-produk halal dunia,” ujarnya.
Ma’ruf pun meyakini ICMI dengan pengalaman selama ini dalam pengembangan ekonomi dan keuangan syariah dapat turut berperan dalam upaya peningkatan kapasitas ekonomi umat. Karena, Pemerintah ingin mendorong kemajuan ekonomi dan keuangan syariah mulai dari perbankan, industri keuangan nonbank, asuransi, pegadaian, hingga pasar modal.
“Itu masih sangat kecil, baru yang terbesar hanya sukuk. Terbesar di dunia tapi lainnya masih kecil. Pangsa pasar kita baru 8 sekian persen, bahkan perbankan hanya 5 sekian persen,” ujarnya.
Tak lupa, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) nonaktif itu juga ingin mengembangkan potensi dana sosial (social fund) mulai zakat hingga wakaf. Menurutnya, jumlah zakat saat ini baru sekitar Rp 8 triliun atau 3,5 persen dari potensi zakat yang mencapai lebih dari Rp 230 triliun.
“Karena itu perlu ada upaya-upaya yang lebih serius, belum lagi wakaf, kita akan memperoleh dana besar, dana murah yang bisa mendukung pengembangan ekonomi umat dan ekonomi nasional kita,” ujarnya. [Fathur]





















