New York, Gontornews — Amerika Serikat mulai kebanjiran tunawisma. Sebuah laporan mencatat dalam pekan ini jumlah tunawisma di New York City mencapai 59.698 jiwa. Jumlah ini masih dimungkinkan bertambah seiring dengan ketimpangan ekonomi yang terjadi di negeri Paman Sam itu.
Staf Departemen Layanan Tunawisma Steven Bank mengungkapkan, permasalahan yang mendesak untuk segera diatasi di New York adalah merumahkan para tunawisma yang berkeliaran di luar rumah dan jalan-jalan.
Bank mengatakan, jumlah tunawisma telah mencatat rekor terbaru sehingga diperlukan solusi ekstrem untuk menyelesaikan masalah yang ekstrem.
“Masalah ini tidak terjadi semalam dan tidak akan bisa diselesaikan dalam waktu semalaman,” katanyanya seperti dilansir sputniknews, Sabtu (24/9).
Pihaknya akan berfokus menjamin setiap orang memiliki atap setiap malamnya. Ini merupakan persyaratan hukum di New York City tetapi juga kewajiban moral untuk memastikan semua warga New York tidak terlantar di jalanan.
Bank juga mengklaim bahwa sebanyak 400 ribu unit perumahan yang terjangkau telah habis di New York, sementara jumlah tunawisma terus meningkat hingga mencapai 115 persen. Faktor tingginya biaya hidup di New York menjadi penyebab meningkatnya jumlah tunawisma di sana.
Menurut data RentJungle, harga sewa rata-rata apartemen New York City mecapai 3.253 USD, sementara upah minimum kota tersebut hanya sebesar 10,50 USD per jam. Dengan demikian orang dipaksa tinggal di perumahan yang penuh sesak dengan status sebagai “penyewa hantu”, karena nama mereka tak terdaftar secara resmi.
AS tidak mau mengakui parahnya masalah ini namun kaum tunawisma dalam segala bentuknya telah mencengkeram banyak kota di Amerika. Fakta ini menunjukkan betapa warga AS hidup penuh ketimpangan sosial di mana warga yang kaya hidup mewah sementara yang miskin hidup menderita.
Padahal ekonomi AS terbesar di dunia dengan Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar $15,8 triliun pada tahun 2012, atau seperempat dari PDB nominal dunia. [Ahmad Muhajir/Rus]




















