Jakarta, Gontornews — Prof KH Muhammad Sirajuddin Syamsuddin, MA, PhD, atau yang akrab disapa Din Syamsuddin meminta Pemerintah menghormati perbedaan Idul Fitri 1 Syawal di kalangan umat Islam dan mengayominya dengan mengizinkan fasilitas umum untuk digunakan sebagai tempat shalat Idul Fitri.
“Perbedaan Idul Fitri 1 Syawal sering terjadi, walaupun tidak selalu terjadi setiap tahun. Hal ini disebabkan perbedaan hadits yang dipakai, antara menyempurnakan bilangan bulan dan perhitungan atau perkiraan posisi hilal,” ujar Din Syamsuddin dalam rilisnya yang diterima Gontornews.com, Rabu (19/4).
Din menyebutkan, meskipun ada perbedaan dalam menentukan 1 Syawal, sebenarnya keduanya sama-sama menggunakan rukyat (Bahasa Arab: melihat atau berpendapat). Perbedaannya yang satu menggunakan rukyat bil ‘aini (melihat dengan mata inderawi), dan yang satu rukyat bil ‘aqli (melihat dengan mata pikiran).
“Keduanya sulit dipertemukan seperti meyakini sesuatu dengan melihatnya (seeing is believing) dan meyakini sesuatu dengan mengetahuinya (knowing is believing),” tandas Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2005-2010 dan 2010-2015 itu.
Karena itu, paparnya, umat Islam perlu menyikapi perbedaan dengan sikap dewasa dalam beragama. “Pemerintah perlu berada di tengah dengan mengayomi semua pihak, dan tidak mengambil posisi tunggal,” katanya.
Dalam rilisnya Din menyebutkan lima hal terkait perbedaan waktu Idul Fitri. Pertama, Idul Fitri merupakan ibadah berdasarkan keyakinan sesuai dalil naqli dan ‘aqli. Karena itu ia meminta kepada kaum Muslimin untuk menunaikan shalat Idul Fitri sesuai keyakinannya masing-masing tanpa merusak silaturahim dan ukhuwah Islamiyah.
Kedua, sesuai amanat Konstitusi Pemerintah harus mengayomi rakyat warga negara dengan memberi kebebasan menjalankan ibadah sesuai keyakinannya masing-masing.
Ketiga, karena posisi bulan pada Kamis, 20 April 2023, masih di bawah imkan al-ru’yah maka tidak perlu diadakan Rapat Istbat yang hanya menghabiskan anggaran negara.
Keempat, Pemerintah yang kepemimpinan hikmah berdasarkan Pancasila (kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan) untuk mengumumkan bahwa pada tahun ini ada dua keyakinan tentang Idul Fitri: 21 April 2023, dan 22 April 2023. “Silakan umat memilihnya sesuai keyakinan dan tetap merayakan ldul Fitri dalam semangat ukhuwah Islamiyah,” ujar cendekiawan Muslim lulusan Universitas California, AS, tahun 1991 itu.
Kelima, Pemerintah menghormati dan mengayomi keduanya dengan mengizinkan fasilitas umum digunakan untuk shalat Idul Fitri pada kedua hari tersebut.
“Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1444 H,” ujar pria kelahiran Sumbawa, 31 Agustus 1958 itu. []
























