New York, Gontornews — Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyerukan kepada publik Internasional untuk bersama-sama mengakhiri penindasan agama yang dilakukan oleh Pemerintah Cina terhadap entis minoritas Uighur di Xinjiang.
“Sebagai presiden, melindungi kebebasan beragama adalah satu prioritas tertinggi saya dan akan selalu demikian,” kata Donald Trump di sela-sela pertemuan tahunan para pemimpin dunia di kantor Persatuan Bangsa-Bangsa di New York, Amerika Serikat, Senin (23/9).
“Amerika Serikat menyerukan kepada bangsa-bangsa di dunia untuk mengakhiri segala bentuk penganiayaan agama,” tambahnya sebagaimana dilansir Reuters.
Selain menyerukan penghentian atas tindakan penindasan agama, hadir pula seorang wanita Uighur, yang diketahui bermana Jewher Ilham, yang ayahnya dipenjara di Cina.
“Setiap hari jutaan orang Uighur dan minoritas muslim lainnya di Cina dilecehkan, dibius dan diindoktrinasi di kamp konsentrasi milik pemerintah,” kata Ilham sebagaimana dilansir Reuters.
“Beijing percaya bahwa Islam merupakan penyakit yang harus diobati dengan tangan besi,” tambah Ilham.
Dalam kesematan yang sama, Wakil Presiden AS, Mike Pence, mengkritik pemerintah Cina yang melarang penjualan Alkitab serta menangkap pendeta-pendeka kristen.
“Partai Komunis Cina telah menangkap para pendeta Kristen, melarang penjualan Alkitab, menghancurkan gereja-gereja dan memenajarakan lebih dari satu juta warga muslim Uighur,” kata Pence.
Sementara itu, Juru bicara delegasi Cina, yang tidak diketahui namanya, mengatakan bahwa pernyataan tersebut melanggar Piagam PBB.
“Sayangnya, kami menyesal melihat Amerika Serikat menggunakan kedok kebebasan beragama sebagai kedok untuk mengkritik negara-negara berdaulat dan tidak menghargai dan mengubah fakta yang ada,” kata juru bicara tersebut dalam sebuah pernyataan.
“(Pernyataan) mereka tidak akan menghasilkan efek apapaun. Mereka juga tidak akan mendapat dukungan dari mayoritas negara,” pungkasnya. [Mohamad Deny Irawan]




















