Washington, Gontornews — Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, memulai KTT Aksi Iklim PBB di New York dengan mengatakan pentingnya seluruh negara untuk ikut serta dalam menanggulangi perubahan iklim. Guterres bahkan tidak segan menyebut perubahan iklim berada dalam kondisi darurat.
“Darurat iklim adalah perlombaan yang memungkinkan kita mengalami kekalahan. Akan tetapi, perlombaan itu bisa kita menangkan,” kata Sekjen PBB, Antonio Guterres, sebagaimana dilansir Anadolu.
Dalam pertemuan yang melibatkan para pemimpin negara, pemimpin bisnis dan masyarakat sipil itu, secara khusus, Guterres menyebut Zambia dan Bahama sebagai negara dengan dampak perubahan iklim paling buruk di dunia.
“Jangan salah, ketika kita melihat gambar-gambar itu, kita tidak hanya melihat kerusakan.”
“Kami juga melihat masa depan jika kami tidak bertindak sekarang,” tuturnya menambahkan.
PBB juga memperkirakan seluruh negara di dunia perlu meningkatkan usahanya tiga hingga lima kali lipat untuk menahan sekaligus menghindari kerusakan iklim. Para saintis mengingatkan seluruh pemerintah dunia bahwa batas berbahaya kenaikan suhu dunia berada di angka 1,5 derajat celcius.
“Generasi saya telah gagal bertanggungjawab untuk melindungi planet kita. Itu harus berubah,” seloroh Guterres.
Lebih lanjut, Guterres menekankan bahwa perubahan iklim yang sedemikian ekstrem disebabkan oleh manusia. Karenanya, seluruh negara harus memiliki solusi untuk menanggulangi perubahan iklim tersebut.
“Kami memiliki alat dan teknologi. Keadaan darurat iklim merupakan perlombaan yang bisa saja kami kalah. Tetapi, ini adalah perlombaan yang bisa kami menangkan,” pungkas pengganti Ban Ki Moon tersebut. [Mohamad Deny Irawan]



















