Keberadaan alumni Pondok Modern Gontor di kancah dunia tidak perlu diragukan lagi. Berbagai kegiatan berskala internasional yang dilaksanakan di luar negeri kerap melibatkan alumni Gontor, termasuk acara Debat Bahasa Arab Internasional yang diselenggarakan di Turki.
Syahruddin, dosen Fakultas Ekonomi dan Manajemen Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor telah dipercaya menjadi Juri Utama dalam acara Debat Bahasa Arab Internasional di Universitas Karabuk, Turki, yang merupakan salah satu kampus utama di negara itu. “Ini merupakan debat pertama level internasional di Turki,” katanya kepada Majalah Gontor.
Alumni Gontor 2002 itu menjelaskan untuk menjadi juri dalam acara debat internasional harus melalui seleksi tiga tahap. Pertama, kemampuan berbahasa Arab. Kedua, pengalaman debat berbahasa Arab. Ketiga, pengalaman menjadi juri dalam debat Bahasa Arab.
Selain dirinya, ada juga juri lainnya yang berasal dari berbagai negara, yaitu: Sudan, Suriah, Yaman, dan Turki. “Semua juri yang masuk seleksi memiliki keahlian Bahasa Arab yang sangat baik, hanya kurangnya mereka tidak memiliki pengalaman debat ataupun menjadi juri debat,” tambahnya.
Sehingga menurutnya, pengalaman debat yang dianggap biasa di Gontor rupanya di negara lain menjadi hal yang paling mahal. Karena pengalaman debat dan juri itulah, ia dipilih menjadi juri utama dari babak penyisihan hingga babak final.
Acara yang diselenggarakan selama tiga hari di Fakultas Studi Islam (FSI), di dua aula utama dan lima ruang kelas di kampus ternama di Turki itu menghadirkan 36 mahasiswa dari 12 negara di antaranya: Turki, Irak, Suriah, Yaman, Sudan, Aljazair, Chad, Palestina, Mauritania dan Senegal.
Mahasiswa dari 12 negara itu terpilih dari ratusan mahasiswa yang berasal dari 90 negara. Setiap negara diwakili oleh tiga mahasiswa dari berbagai bidang studi.
“Universitas Karabuk ini merupakan kampus terbanyak mahasiswa asingnya di Turki,” jelasnya.
Direktur ICAST UNIDA Gontor yang tengah merampungkan studi doktoral program Keuangan dan Perbankan Islam di Karabuk Universitesi ini juga menjelaskan bahwa beberapa tema menjadi pertanyaan dalam acara debat Bahasa Arab Internasional. Di antaranya mengenai konflik Ukraina dan Rusia yang tengah terjadi saat ini. Selain itu, ada juga tema mengenai kesehatan yang banyak membahas soal rokok dan beberapa pertanyaan seputar kampus.
Juara umum lomba debat ini dimenangkan oleh mahasiswa asal Chad. “Hadiah diserahkan langsung oleh Dekan Fakultas, Prof Dr Saim Kayadibi, asal Konya Turki yang kebetulan menjadi pembimbing saya,” terangnya.
Syahruddin berharap akan ada mahasiswa Indonesia yang dapat berpartisipasi dalam lomba debat intenasional tahun depan. Tidak hanya dalam babak penyisihan, namun juga saat babak final, sehingga dapat memberikan kebanggaan bagi bangsa dan negara.
Sementara itu, Ketua Penyelenggara, Dr Naim Hank asal Aljazair yang juga dosen FSI alumni IIUM dan UM Malaysia, mengatakan bahwa acara Debat Bahasa Arab Internasional di Turki ditujukan untuk mempererat ukhuwah Islamiyyah antarmahasiswa internasional dan meninggikan penggunaan bahasa Arab fushah.
“Juga mengasah kemampuan debat intelektual sesuai dengan mekanisme penilaian debat internasional yang berlaku,” jelasnya.[] Devi Lusianawati


















