Tak banyak sosok Walikota di Indonesia yang juga merangkap sebagai kiai atau ustadz. Salah satunya adalah KH Dr Mohammad Idris, MA Walikota Depok periode 2016-2021. Melalui suara rakyat Depok, ia berhasil melanjutkan jabatannya dari Wakil Walikota (2011-2016) menjadi Walikota mulai tahun ini.
Kiai Idris yang lahir di Depok pada 9 Oktober 1970 ini memiliki ayah bernama H Abdul Shomad asli Beji, sedangkan ibunya Hj Yumani Binti Sholeh asli Cilodong. Kedua orang tuanya kemudian hijrah di Jakarta untuk berdagang di Manggarai. Idris dan kedelapan saudaranya dididik di lingkungan keluarga yang agamis.
Cucu dari KH. Hasbi dan Nyai Siqot – Sesepuh Beji – ini menamatkan SD dan MI di Jakarta, kemudian Idris menimba ilmu di Pondok Modern Gontor Ponorogo selama 6 tahun. Setelah itu, sang Kyai mendapatkan kesempatan beasiswa melanjutkan studi di Arab Saudi pada tahun 1982.
Bagi Kiai Idris, pendidikan kepemimpinan yang diajarkan para kiai dan ustadz di Gontor telah banyak mewarnai cara dia berpolitik. Slogan ‘siap memimpin dan siap dipimpin’ yang kerap didengar saat nyantri menjadikan ia benar-benar harus menjalankan amanah sesuai amanat undang-undang yang tentunya dalam bingkai ajara Islam.
Ketika menjadi santri, Idris gemar sekali olahraga basket. Bahkan ia kerap mengikuti pertandingan di pondok. Namun hobi ini ternyata melenakan dirinya untuk melanggar aturan pondok, di mana tidak boleh bermain di luar pondok. Ia bersama tim lainya nekad bertanding di luar pondok, alhasil, timnya kalah dan ia pun harus membayar hukuman dengan kepala botak.
“Karena ketahuan kami dibotak dan menyapu di depan rumah kiai Zarkasyi. Hasil basket kalah dan tangan saya cidera bengkak. Saya pikir ini efek tidak ijin ke pondok,” kenangnya sambil tersenyum lebar.
Ketika liburan pondok, Idris kerap diajak oleh ayahnya untuk sowan ke kiai-kiai bahkan mengisi beberapa acara keluarga. Bagi Idris ini merupakan pendidikan untuk memiliki mental pemberani tampil di depan publik. Ilmu pidato ini akhirnya sangat berguna ketika ia beraktivitas sebagai dai saat mendirikan Ikatan Dai Indonesia (Ikadi) dan ia menjadi Sekjen Ikadi.
Bagi Idris, pendidikan di Pondok Gontor merupakan pendidikan kaderisasi, yang ditanamkan tentang kecerdasan sosial. Bahkan sampai etika membawa gelas saat menyuguhkan ke tamu juga pernah mendapatkan kritik dari Kiai Zar. “Kalau ada bunyi gemetar gelas saat mengantar hidangan ke tamu, maka beliau menegur. Kewibawaan beliau sangat terasa bagi kami,” ujarnya.
Idris juga aktif dalam kepramukaan. Keaktifan Idris menjadikan dirinya mendapat amanah sebagai koordinator pramuka dan menjadi pasukan pengibar bendera. Tak hanya itu, ia juga pernah bergabung dalam pasukan pengawalan presiden Soeharto ketika akan berkunjung ke Gontor tahun 1978.
Setamat dari Gontor tahun 1979, Idris sempat dua tahun kuliah di Akademi Ilmu Dakwah di Jakarta sembari belajar di lembaga latihan bahasa Arab. Setelah itu, ia melanjutkan kuliah di Arab Saudi. “Selama 15 tahun, saya berada di Arab Saudi. Pendidikan S-1, S-2 sampai S-3 saya selesaikan disana,” kata bapak 3 putra dan 3 putri ini.
Dengan dukungan keluarga besar yang relijius inilah Idris menempuh pendidikan hingga meraih gelar doktor di Fakultas Syari’ah jurusan Tsaqofah Islamiyyah Universitas Imam Muhammad Ibn Saud, Ryad Arab Saudi.
Saat menyelesaikan tulisan tesis S-2 nya, Kiai Idris menikah dengan Hj. Elly Farida binti Abdurahman. Pada tahun 1997, setelah merampungkan gelar doktornya, Kiai Idris kembali ke Jakarta dan aktif di Lembaga Pelayanan Pesantren dan Studi Islam (LP2SI) Al Haramain.
Selama di Arab Saudi, Idris aktif dalam Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) dan Perhimpunan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (PPMI). Pengalaman organisasi inilah yang membuat diri Kiai Idris semakin matang dalam menghadapai persoalan-persoalan di Kota Depok ini nantinya.
Selain itu, Kiai Idris juga menjadi dosen di Fakultas Dakwah Pasca Sarjana UIN dan UI. Kyai santun yang memiliki spesialis ilmu dakwah, pada tahun 2002 bersama-sama dengan Hidayat Nur Wahid mendirikan Ikatan Da’i Indonesia (IKADI). Kyai Idris mendapat amanah menjadi Sekjen di IKADI.
“IKADI yang dibentuk di 30 propinsi itu mempunyai misi untuk menyatukan persepsi para dai, mengukur peta dakwah serta arah yang jelas dan terukur dalam dakwah di Indonesia,” jelasnya.
Dengan demikian, Kiai Idris adalah salah seorang ulama yang menjadi harapan masyarakat, khususnya warga Depok. Keterlibatannya dalam mengawal pembangunan semakin matang saat diamanahi menjadi Sekretaris Umum MUI Kota Depok. Seorang ulama yang juga terjun langsung menyelesaikan berbagai permasalahan warga Depok, terutama masalah-masalah sosial.
Kombinasi antara kedalaman ilmu dan kiprah nyata bersama masyarakat, makin meneguhkan sosok Kiai Idris sebagai ‘ulama yang visioner. Pemikirannya ini juga dituangkan beberapa buku, diantaranya : Kepemimpinan dan Tanggung Jawab Sosial, Membina Rumah Tangga Bahagia; Kiat-Kiat Mendidik Anak, IKADI, Mengasah SQ dan Dzikrullah, dan ;ain sebagainya.
Akhirnya, Kiai Idris berharap kepada seluruh masyarakat Depok untuk bersama-sama, bahu membahu guna menciptakan kota Depok yang lebih maju dan sejahtera. Saat ini, Pemerintah Kota Depok memiliki tiga program unggulan dalam dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) tahun 2016-2021.
Ketiga program unggulan ini adalah merealisasikan visi Kota Depok yakni menjadikan Depok sebagai Kota yang unggul, nyaman, dan religius. Pertama, Zero Waste City bukan berarti kota Depok sama sekali tidak ada sampah. Akan tetapi, dinilai melalui prosesnya, agar semua masyarakat di Kota Depok peduli dengan sampah. Serta semua warga bergerak membersihkan sampah di lingkungannya.
Program unggulan kedua, Smart Healthy City, dalam program unggulan ini Bappeda sudah menurunkan dalam beberapa program diantaranya penyusunan sistem kesehatan daerah, peningkatan kualitas dan kuantitas pelayanan kesehatan tingkat pertama, penyelenggaraan database berbasis IT, penambahan mitra RS yang menerima BPJS, serta penambahan RS di wilayah timur.
Sedangkan yang terakhir, menjadi Kota Ketahanan Keluarga (Family Resilience City). Dalam program unggulan ini, terkait dengan keberhasilan dalam pendidikan anak-anak yang berkualitas. [Fathur/DJ]


















