Jakarta, Gontornews — Man Jadda Wajada. Barang siapa bersungguh-sungguh maka dapatlah ia. Begitu kata mahfudzot yang terkenal di benak santri Gontor. Pemilik akun facebook “Dewi Mboke Dapa” mendadak viral di kalangan keluarga Pondok Modern Darussalam Gontor setelah memposting foto Sutrisno memegang tulisan “Saya Ojek Online sangat bahagia menjemput putra saya santri Gontor Pusat”.
Uniknya, Sutrisno menggunakan pakaian khas pengemudi ojek online. Meski demikian, perjuangan dan semangat dalam menyekolahkan putranya ke Gontor tidak surut. Termasuk saat ia menjemput putranya ketika perpulangan santri Gontor di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta Timur.
Dalam cerita di akun facebook “Dewi Mboke Dapa”, Dewi, ibu dari santri kelas 1B bernama Dava Rizky Sutrisno, berkisah tentang kondisi kesehatan putranya saat ujian akhir tahun. “Saya mendapat telepon singkat dari ananda, mengabarkan bahwa Dava sedang kurang sehat dan In syaa Allah akan dirawat di RS Yasyfin,” kata Dewi dalam akun Facebooknya.
Mendengar kisah tersebut, seketika tubuh Dewi terasa lemas, air matapun bercucuran sekaligus bingung karena kondisi ini terjadi jelang perpulangan santri. Komunikasi dengan pihak pondok pun dilakukan secara intensif mulai dengan wali kelas hingga staf RS Yasfin. Namun, pihak pondok memastikan andai kondisi kesehatan Dava membaik dan keluar dari RS Yasyfin maka ia diperbolehkan untuk mengikuti perpulangan.
Sebagai informasi, Pondok Modern Darussalam meniadakan kunjungan bagi wali santri selama pandemi. Walhasil, dalam satu tahun ajaran ini, tidak ada wali santri yang menjenguk putra maupun putrinya di Gontor. Komunikasi pun terbatas melalui sambungan telepon. Rasa kangen dan rindu orang tua kepada anak, terutama santri baru, membuncah dan tidak terelakkan.
Hingga tiba hari Senin 5 April 2021 atau H-1 perpulangan, kepastian perpulangan Dava belum dapat dipastikan. Informasi perpulangan yang berseliweran di WhatsApp Group (WAG) semakin membuat hati Dewi tidak tenang. Dewi pun tak kuasa untuk menceritakan ketidaktenangannya terkait belum pastinya kepulangan sang anak kepada sang ayah.
“Yah, saya khawatir sekali dengan Dava. Seandainya Dava belum boleh ikut perpulangan di liburan ini, saya mau menengok ke Ponorogo,” kata Dewi kepada suaminya.
“Suami saya menjawab: yang sabar, jangan menangis, jangan dibikin gelisah, doain saja mudah-mudahan Dava sehat,” kata suaminya.
Mendengar jawaban sang suami, Dewi pun menangis sesenggukan sambil ngedumel dan menganggap respon biasa sang suami menambah rasa kekhawatiran dirinya. Akhirnya, sang suami pun menjawab dengan sedikit nada tinggi.
“Kalau suami ngomong, jangan suka salah paham. Mana ada bapak yang tidak sayang anaknya. Anak sakit didoain. Mudah-mudahan sehat. Di sana juga sedang dirawat. Sama orang tuanya sendiri pun, biar di-empling-empling kayak anak ndoro drei, kalau waktunya sakit ya tetep sakit,”
“Yang sabar. Khawatir dan gelisah cuma bikin mati semangat kita. Anak mondok itu, yang beruntung orang tuanya. Mencari rezeki lebih semangat, lebih ada tujuan bukan hanya untuk dunia saja. Tidak semua orang tua punya anak mau mondok. Terkadang banyak duit belum tentu anaknya mau mondok,” kata Dewi menirukan perkataan Sutrisno, suaminya.
“Anaknya mau mondok pun, terkadang orang tuanya tidak tega. Yang anaknya mondok, orang tuanya kuat. Itu pilihan. Pilihan kita sendiri. ini baru awal. Perjalanan ke depan masih jauh. Masih panjang. Doain saja. In syaa Allah kalau sudah membaik, pasti liburan Dava pulang, bu,” tambahnya.
Benar saja, pada hari yang sama pukul 23:23 WIB, telepon Dewi berdering. Wali kelas Dava menginformasikan kepada orang tua bahwa sang anak sudah pulang dari rumah sakit dan sudah kembali ke rayon.
“Alhamdulilah, Dava sudah pulang ke rayon malam ini. in sya Allah besok malam bisa mengikuti perpulangan bersama konsulat,” pesan dari guru yang berada di pondok.
Sesaat setelah ayah Dava pulang dari nge-Gojek, Dewi pun bercerita seputar kepulangan putranya. Tanpa berpikir panjang, sang ayah mengambil spidol dan menuliskan sebuah tulisan di secarik kertas. Tulisannya, “Saya Ojek Online sangat bahagia menjemput putra saya santri Gontor Pusat”.
“Doi ambil spidol sama kertas dan ditulislah tulisan itu. Sambil bilang: Nih, tidak usah nge-print. Nanti ini saja buat kalau Dava pulang,” kata suami Dewi.
“Seketika, saya pun mengunggah foto suami saya sedang memegang tulisan itu sebagai ungkapan bahagia seperti wali santri lain yang juga sangat bahagia saat mendengar info mujahidnya mau liburan dan pulang. Ternyata, foto suami saya ada di facebook ini. Masya Allah”.
“Alhamdulillah, banyak sekali untaian doa untuk putra kami di dalam kolom comment. Alhamdulillah, semoga yang mendoakan kebaikan bagi keluarga kai, Allah membalasnya dengan kebaikan dunia hingga kebaikan akhirat,” tutupnya.
Ridho Allah terletak pada ridho kedua orang tua dan marahnya Allah SWT terletak pada marahnya orang tua. [Mohamad Deny Irawan]


















