Tokyo, Gontornews — Media pemerintah Jepang, NHK, melaporkan dua penumpang kapal pesiar Diamond Princess meninggal dunia akibat virus korona, Kamis (20/2). Sebagaimana diketahui, pemerintah Jepang mengarantina kapal pesiar Diamond Princess setelah 621 penumpang positif mengidap virus asal Wuhan tersebut.
Pemerintah Jepang mengonfirmasi bahwa korban meninggal dari kapal pesiar tersebut adalah pria berusia 87 tahun dan wanita berusia 84 tahun. Keduanya merupakan warga negara Jepang dan menjadi dua korban pertama meninggal dari penumpang kapal pesiar Diamond Princess.
Kedua korban tewas diduga memiliki masalah kesehatan sebelumnya. Mereka diturunkan dari kapal sejak pekan lalu dan mendapatkan perawatan intensif dari pihak rumah sakit. Dengan demikian, korban tewas akibat virus korona di Jepang berjumlah tiga orang.
Secara umum, kasus virus korona di Jepang telah mencapai 85 orang. Yang terbaru, pria berusia 60-an tahun asal Fukuoka, Kyushu, dinyatakan positif virus bernama resmi COVID-19 tersebut.
Pemerintah kota Fukuoka, Kyushu, mengonfirmasi bahwa pasien tidak memiliki sejarah perjalanan internasional dalam beberapa waktu belakangan. Jika dijumlah dengan pasien di kapal pesiar Diamond Princess, total pasien virus korona di Jepang mencapai lebih dari 700 orang.
Dalam catatan NHK, 442 orang terinfeksi virus korona di luar daratan Cina dan Jepang. Dari 27 negara yang terkonfirmasi virus mematikan tersebut, Singapura mengonfirmasi 84 kasus, Korea Selatan 82 kasus, Hong Kong 65 kasus, Thailand 24 kasus dan Malaysia 22 kasus.
Jerman dan Vietnam, masing-masing, mengonfirmasi 16 kasus. Australia dan Amerika Serikat mengonfirmasi 15 kasus. Dua belas kasus terkonfirmasi di Prancis, 10 di Makau, Inggris dan Uni Emirat Arab masing-masing 9 kasus, 8 kasus di Kanada. Sedangkan Filipina, India dan Italia mengonfirmasi 3 kasus.
Rusia dan Spanyol mengonfirmasi 2 kasus. Sementara Nepal, Kamboja, Sri Lanka, Finlandia, Swedia, Belgia dan Mesir mengonfirmasi satu kasus.
Sedangkan korban tewas akibat virus korona di luar Cina terkonfirmasi di Filipina (2 kasus), Prancis, Taiwan dan juga Jepang. [Mohamad Deny Irawan]























