Oleh Dedi Junaedi
Wartawan & Dosen INAIS Bogor
Per 20 Januari, Donald Trump resmi menjadi Presiden AS. Menggantikan Barrack H Obama, pilihan Partai Republik ini langsung menggebrak dengan mencopot sedikitnya 80 dubesnya di luar negeri. Masyarakat internasional kaget. Pasar bereaksi negatif. Dolar AS pun melemah.
Dalam orasi pascapenobatannya menjadi Presiden AS ke-45, dia lantang menyuarakan nasionalisme baru Amerika. Pakta kerjasama ekonomi Trans Pacific Partnership (TPP)–yang dirintis regim sebelumnya – dinyatakan tidak berlaku. “Mulai saat ini, akan mengutamakan warga Amerika,” ujar Donald Trump di Gedung Capitol, Washington DC, Jumat (20/1).
Dia melanjutkan, “Bersama kita akan menentukan arah dari Amerika dan dunia untuk bertahun-tahun ke depan. Sejak hari ini Amerika akan selalu menjadi yang pertama.”
Demi Amerika, dia pun bersumpah akan memerangi Islam. “Akan menghapus mujahidin dari muka bumi, serta menyatukan dunia untuk memerangi kelompok pejuang syariat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad,’’ tegasnya.
Ungkapan itu mengingatkan banyak pihak terhadap kampanyenya yang meledak-ledak dan cenderung sarkastis. Ketua Council of American Islamic Relations (CAIR) Cabang Kansas, Moussa ElBayoumi, mengatakan, Muslim tidak bisa mengesampingkan isi kampanye Trump. Menurutnya, Trump bisa menang salah satunya karena sentimen anti-Muslim dan antiimigran. Elbayoumi meminta agar Trump menghormati konstitusi AS dan nilai-nilai yang dibangun di negeri liberal tersebut.
Yang berbahaya dari Trump, menurut Imam Islamic Center New York, Shamsi Ali, adalah pandangannya soal komunitas Muslim sebagai sumber radikalisme dan terorisme, Dia menyebut retorika kampanye Trum sangat menyakiti komuniytas Muslim dan kelompok minoritas lainnya.
Memang, banyak ungkapan Donald Trump tendensius dan provokatif. Desember 2011, dalam wawancara dengan The Brody File, dia mengatakan: “Saya jelas bukan ahli Islam. Tapi, Al Qur’an menandung ajaran-ajaran yang sangat negatif.” November 2015, dalam wawancara dengan MSNBC, dia menyatakan kebenciannya. “Menurup masjid-masjid, aaya benci melakukannya. Tapi, itu sangat layak dipertimbangkan.” Dan, sebulan kemudian, dalam siaran peers kampanyenya, Trump menyamaikan: “pelarangan total buat Muslim memasuki AS hingga perwakilan kita tahu apa yang terjadi .”
Seakan mewujudkan janjinya saat kamanye, Donald Trump kini berbegas akan memindahkan markas Kedubes AS dari Tel Aviv ke Yerussalem. Tahun lalu, dua bulan sebelum waktu pilpres, saat bertemu PM Israel Benjamin Netanyahu, dia berjanji: “akan mengakui Yerusalem sebagai Ibukota Israel yang tak terpisahkan.” Kepada CNN, Maret 2016, dia berkata: “Saya pikir Islam membenci kita. Sulit memisahkan Islam dengan radikalisme karena kau tak tahu siapa yang menganut apa?”
Singkatnya, seperti ungkapan Muhammad Sigit Andi Rahman, Ketua Asosiasi Mahasiswwa Muslim (MSA) Cabang Old Dominion University, “Trump menjadi personifikasi Islamophobia di Amerika.” Maka, tak aneh, jika hampir semua Muslim kompak berharap agar Trump tak terpilih menjadi Presiden AS setelah Obama.
Atas dasar itu, kemenangan Trump tentu saja menjadi mimpi buruk bagi komunitas Muslim di Amerika dan dunia Islam pada umumnya. Daniel Cooper, pengamat politik dari Lone Star College di Houson menyampaikan pendapat bahwa terpilihnyaa Trump kemungkinan hanya menyuitkan Muslim di Timur Tengah. “Hubungan antara Indonesia dan Amerika juga menjadi kurang pasti.”
Di luar dugaan, Donald Trump berhasil meraih suara terbanyak dalam Pemilihan Presiden AS. Dia mengalahkan Hilary Clinton dengan dengan rasio 288:215. Kemenangan capres Partai Republik ini mengejutkan banyak pihak. Termasuk banyak lembaga survey yang sebelumnya mengunggulkan Hilary Clinton, capres Partai Demokrat.
Sejumlah pemimpin negara telah menyampaikan ucapan selamat atas terpilihnya pengusaha real estate itu. Meski begitu, tersirat juga rasa keterkejutan dan kekhawatiran mereka. Bahkan, Presiden Rusia, Vladimir Putin, yang sebelumnya cenderung Capres Republik, menyatakan: “Hubungan AS dan Rusia ke depan bakal menjadi jalan yang tidak mudah.”
Pasca kemenangan Trump perekonomian dunia sempat bergolak. Pasar saham di Asia dan Eropa menurun tajam. Nilai dolar melemah, dan harga emas melonjak. Tema kampanye yang cenderung ultrakonservatif, pro kulit putih, anti imigran Amerika Latin dan anti Islam membuat banyak pihak khawatir. Termasuk dunia Islam dan masyarakat Muslim.
Sebagaimana dilaporkan banyak media, aksi perampokan dan pelecehan terjadi di beberapa tempat. Wakil Presiden Asosiasi Mahasiswa Muslim, Sana Maya, menyebut seorang Muslim di San Diego State University dirampok dan mobilnya ikut dibawa lari. Sementara di San Jose State University, seorang Muslimah dipaksa lepas jilbabnya. Tindakan anarki juga terjadi di Albuquerque, New Mexico, dan Universitas Kansas.
Presiden Mahasiswa Asosiasi Muslim, Zoya Kahn, meminta pihak berwenang segera bertindak untuk menghentikan vandalism dan sikap diskriminatif terhadap komunitas Muslim di AS. Khan berharap pihak Trump dan Partai Republik mau turun tangan untuk menjaga kebebasan publik.
Moussa El Bayoumi, berharap Presiden AS yang baru dapat mengesampingkan masalah rasial, agama, juga latar belakang nasional. Jika presiden baru gagal untuk menjalankannya, dia menegaskan, CAIR akan teguh membela kebebasan sipil warga AS, termasuk Muslim.
Ketua Partai Republik Virginia John Whitbeck menjamin partainya menjunjung tinggi kebebasan beragama. ‘’Partai Republik akan menghormati kebebasan beragama. Percayalah, Trump akan menjadi presiden untuk semua warga. Kami juga menolak larangan Muslim masuk AS,” tegasnya.
Pemimpin Koalisi Muslim Republik, Saba Ahmed, meminta kaum Muslim melupakann semua omongan negatif Trump. “Muslim AS harus lebih proaktif dan punya strategi merangkul Republik,” pungkasnya seperti dikutip Aljazirah.
Prof Basil al-Qudwa dari Al Huda University di Houston percaya Trump tidak akan mengancam Muslim. Apalagi, sikap ultrakonservatif Trump juga kini banyak ditentang warga dan komunitas pecinta HAM.
Dedi Junaedi




















