Istanbul, Gontornews — Kekacauan di Libya akan mempengaruhi seluruh wilayah Mediterania jika perdamaian tidak dipastikan sesegera mungkin. Demikian dikatakan Presiden Turki, Recep Tayyip Erdoğan, pada upacara pembukaan kampus baru Universitas Turki-Jerman di Istanbul dengan Kanselir Jerman Angela Merkel, Jumat (24/1).
Presiden Turki mendesak dunia internasional untuk memaksa kepala pasukan yang berbasis di timur Libya untuk mematuhi gencatan senjata sementara. “Jika ketenangan tidak terbentuk secepat mungkin, suasana kekacauan di Libya akan mempengaruhi semua cekungan Mediterania,” katanya dikutip hurriyetdailynews.com.
Rencana perdamaian 55 pasal baru-baru ini merupakan langkah penting menuju pemulihan stabilitas politik di Libya, katanya, seraya menambahkan bahwa keberhasilan rencana itu bergantung pada implementasinya di lapangan.
“Penting untuk menekan Haftar dan para pendukungnya. Meningkatnya serangan terhadap daerah pemukiman sipil di Tripoli dan penargetan Bandara Mitiga menunjukkan siapa yang berada di sisi perdamaian dan siapa yang berada di pihak berlanjutnya darah dan air mata,” lanjut Erdogan.
“Kami berharap komunitas internasional tidak akan membuat kesalahan seperti di Suriah,” tambahnya.
Pada 12 Januari, partai-partai di Libya mengumumkan gencatan senjata sebagai tanggapan atas seruan bersama oleh para pemimpin Turki dan Rusia. Tetapi pembicaraan untuk gencatan senjata permanen berakhir tanpa kesepakatan setelah Haftar meninggalkan Moskow tanpa menandatangani kesepakatan.
Pada hari Ahad, Haftar menerima persyaratan di Berlin untuk menunjuk anggota ke komisi militer yang diusulkan oleh PBB dengan lima anggota dari masing-masing pihak untuk memantau pelaksanaan gencatan senjata. Namun serangan rudal pekan ini menghantam bandara Tripoli.
Pasukan Haftar, yang mengendalikan wilayah timur dan sebagian besar Libya selatan, menerima dukungan dari Uni Emirat Arab dan Mesir, serta Prancis dan Rusia. Turki mendukung pemerintah berbasis Tripoli, yang juga didukung oleh Qatar dan Italia. []



















