Ankara, Gontornews — Presiden Recep Tayyip Erdogan mengatakan pada 7 Oktober bahwa Turki siap untuk melancarkan operasi militer terhadap Unit Perlindungan Rakyat (YPG) di sebelah timur Eufrat di Suriah utara setiap saat.
“Kami telah membuat keputusan. Kami mengatakan, ‘kami bisa datang dengan tiba-tiba di suatu malam’. Kami melanjutkan tekad kami,” kata Erdogan kepada wartawan sebelum keberangkatannya ke Serbia.
“Sama sekali tidak mungkin bagi kita untuk lebih menoleransi ancaman dari kelompok-kelompok teroris ini,” katanya merujuk pada YPG.
Erdogan juga mengatakan, pasukan AS telah mulai mundur dari posisi di Suriah utara. “Penarikan [AS] dimulai setelah percakapan kami [dengan Trump] di malam hari,” kata Erdogan, merujuk pada percakapan teleponnya dengan Presiden AS Donald Trump pada 6 Oktober.
Dalam percakapan telepon itu, Erdogan mengungkapkan rasa frustrasinya karena kegagalan pejabat militer dan keamanan AS untuk mengimplementasikan perjanjian antara kedua negara, kata presiden Turki.
Segera setelah percakapan telepon ini, Gedung Putih pada 6 Oktober mengatakan Turki akan “segera bergerak maju dengan operasinya yang telah lama direncanakan” di Suriah utara.
Ia juga mengatakan Turki akan “bertanggung jawab atas semua pejuang ISIL di daerah yang dikuasai selama dua tahun terakhir,” kata Sekretaris Pers Gedung Putih Stephanie Grisham dalam sebuah pernyataan.
Ia menyebutkan, Amerika Serikat tidak akan campur tangan dalam serangan Turki.
“Pasukan AS tidak akan mendukung atau terlibat dalam operasi dan tidak akan lagi berada di daerah terdekat,” kata pernyataan itu. [RM]

















