Kuala Lumpur, Gontornews — Ex Perdana Menteri Australia, Tony Abbott, mengklaim bahwa Pemerintah Malaysia percaya bahwa hilangnya pesawat Malaysia Airlines MH370 merupakan bagian dari teori pembunuhan masal yang belum terbukti.
“Dalam pemahaman saya, pemerintah Malaysia meyakini bahwa sejak awal insiden tersebut sebagai upaya bunuh diri yang dilakukan oleh pilot,” ungkap Abbott sebagaimana dilansir Malay Mail.
“Saya tidak akan mengatakan siapa mengatakan apa kepada siapa. Tapi, izinkan saya mengulangi bahwa pada tingkat tertinggi, insiden tersebut hampir pasti merupakan upaya bunuh diri yang dilakukan oleh pilot,” tambah Abbott.
Abbott sendiri menjabat sebagati Perdana Menteri Australia kala insiden hilangnya pesawat Malaysia Airlines MH370 hilang. Enam orang warga Australia kabarnya menjadi penumpang penerbangan tersebut.
Sebagai informasi, penerbangan pesawat Malaysia Airlines MH370 bertolak dari Kuala Lumpur munuju Beijing pada 8 Maret 2014. Pesawat tersebut membawa 239 penumpang sipil dan kru kabin.
Pencarian puing-puing pesawat di kedalaman 120.000 Km Samudera Hindia dan menghabiskan biaya sekitar 200 juta Dollar Australia sebelum akhirnya ditangguhkan.

Pencarian yang memakan waktu selama 3 bulan tersebut mencakup 112.000 km persegi di Utara lokasi kecelakaan. Namun, tidak ada penemuan baru yang signifikan sebelum dibatalkan pada Mei 2018.
Abbott pun berharap investigasi MH370 dibuka kembali jika ada asumsi bahwa pilot tidak terlibat dalam insiden mengerikan tersebut.
“Jika itu adalah fakta bahwa jangkauan terjauh belum dieksplorasi karena pilot tidak berhasil mengontrol, saya akan mengatakan mari kita membuang asumsi tersebut.”
“Mari kita asumsikan bahwa itu adalah bunuh diri yang dilakukan oleh pilot. Jika ada bagian dari lautan yang bisa dicapai dan belum dieksplorasi, mari kita keluar dan menjelajahinya,” jelas Abbott.
Sebuah laporan yang diterbitkan oleh tim dari Malaysian Interantional Civil Aviation Organization (ICAO) Annex 13 pada tahun 2018 mengindikasikan tidak ada yang salah dengan pilot. [Mohamad Deny Irawan]


















