Ponorogo, Gontornews– Bagi sebagian orang, pasir mungkin tak memiliki nilai materi tinggi namun di tangan Faizan pasir menjadi sumber pundi-pundi rupiah. Tak hanya itu, media pasir juga menjadi sarana mengagungkan nama Allah melalui goresan kaligrafi bertemakan ketauhidan, keagungan dan ke-Esaan Allah SWT.
Faizan adalah alumni Gontor yang menekuni dunia kaligrafi sejak tahun 2.000. Uniknya, skill yang langka ini dikuasainya dengan cara otodidak, berdasarkan pelajaran kaligrafi yang pernah dipelajarinya sewaktu menjadi santri di Pondok Modern Gontor, Jawa Timur.
Inilah salah satu kelebihan pesantren terbesar di Indonesia yang didirikan oleh Trimurti tahun 1926 itu. Santri tak hanya belajar ilmu agama tapi juga diberikan ‘kunci’ pengetahuan, keterampilan dan kemandirian supaya di masyarakat bisa bermanfaat dengan karyanya.
Tahun 2002, Faizan mulai menggali dan mengembangkan khaf kaligrafi Gontor. Hasilnya, pada tahun 2008, pria kelahiran Lampung, 12 September 1974, ini memunculkan seni kaligrafi berbahan pasir laut. Menurutnya, segala sesuatu yang ada di laut memberikan manfaat besar termasuk pasirnya.
Di awal-awal berkarya, Faizan pernah dianggap gila karena menawarkan segenggam pasir seharga 50 ribu kepada wisatawan di pantai Lampung. Itulah seniman yang kadang pemikirannya susah ditebak. Tapi Faizan tidak bermaksud mengada-ada. Ia hanya ingin membuktikan bahwa sebenarnya segenggam pasir pun bisa memberikan manfaat bahkan bisa ‘membeli’ pulau.
“Saya heran dengan sebagian anak bangsa ini kenapa harus menjual pulau. Menjual isinya saja sudah cukup, ini baru pasir belum yang lainnya,” terang Faizan saat ditemui Gontornews.com di acara pameran produk alumni Gontor pada Peringatan 90 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponogoro, Jawa Timur, Ahad (4/9).
Karena semakin mantap dengan idealismenya, pria yang sempat kuliah di Fakultas Tarbiyah IAIN Jogjakarta, ini mengenalkan seni kaligrafi dari pasir laut yang bebas dari pewarnaan, berkimia dan zat berwarna lainnya.
Faizan berpendapat, kaligrafi yang diambil dari ayat-ayat al-Qur’an ini semakin memiliki nilai tinggi ketika menggunakan bahan alami. Munculnya kaligrafi berbahan pasir ini juga berdampak pada posisinya sebagai seniman kaligrafi yang holistik.
“Dulu kita pakai cat minyak tapi posisi seniman sulit naik. Kalau tidak ada terobosan baru tidak bisa naik,” terang seniman pemilik workshop kaligrafi di Jogjakarta bernama Aqil Akhyar ini. Aqil Akhyar berarti yang berakal dan terbaik.
Menurut Faizan, sejak menekuni seni kaligrafi, sudah sekitar 2000 kaligrafinya pernah ikut pameran seni di beberapa galeri kesenian di Indonesia. Di antaranya, ada empat karya utama yaitu wisata Asmaul Husna dengan 100 karya, kaligrafi tentang sejarah Islam masuk Indonesia yang pasirnya diambil dari pesisir pantai yang menjadi permulaan syiar Islam di Indonesia, serta kaligrafi Asbabun Nuzul al-Qur’an.
Karya lain yang juga menjadi primadona adalah kaligrafi Surah Yasin berjudul “Hati Pembeda”. Faizan tidak pernah mematok harga khusus untuk setiap karya seninya. Tapi berdasarkan pengalaman, semakin lama karya seni itu lahir, maka nilai jualnya semakin tinggi. Galeri Aqil Akhyar menawarkan harga mulai dari Rp 250 ribu, Rp 27 juta hingga Rp 250 juta.
Pada acara Peringatan 90 Tahun Gontor, Faizan membawa beberapa karyanya untuk ikut dalam pameran produk alumni Gontor. Ia ingin mengenalkan pada santri bahwa kaligrafi memiliki bidang yang cukup luas yang bisa menjadi alternatif pilihan alumni Gontor ketika terjun di masyarakat.
“Mereka bisa mengisi bidang seni kaligrafi sekaligus berdakwah mengagungkan asma Allah melalui karya seni,” tandasnya. “Seni kaligrafi juga bisa menjadi sarana penyebaran nilai-nilai Gontor,” tambahnya. [Ahmad Muhajir/Rus]



















