Jenewa, Gontornews – Faksi-faksi yang bersaing di Libya pada hari Jumat (5/2) sepakat untuk membentuk pemerintahan sementara setelah lima hari bertemu di Kota Jenewa, Swiss.
Laman dw.com melansir, para delegasi pada pertemuan yang didukung PBB itu memilih pejabat yang akan memimpin negara di Afrika utara itu melalui fase pembangunan kembali setelah gencatan senjata tahun lalu.
Mohammad Younes Menfi, seorang diplomat Libya dengan basis dukungan di bagian timur negara itu, dipilih untuk memimpin tiga orang Dewan Presiden.
Wakilnya yaitu Moussa Al-Koni, seorang Touareg dari wilayah selatan Libya, dan Abdallah Hussein Al-Lafi, dari Kota Zuwara, wilayah barat Libya.
Sedangkan Abdul Hamid Mohammed Dbeibah, seorang pengusaha kuat yang didukung oleh suku-suku di wilayah barat, terpilih sebagai perdana menteri sementara.
Dbeibah, insinyur lulusan Kanada dari Kota Misrata, sebelumnya memimpin Perusahaan Investasi dan Pengembangan Libya di bawah pemerintahan Moammar Gadhafi.
Tak satu pun dari mereka boleh mencalonkan diri dalam pemilihan presiden yang direncanakan akan berlangsung pada 24 Desember tahun ini.
Mereka juga setuju untuk memberikan sekitar sepertiga dari posisi senior pemerintahan kepada kaum perempuan.
Utusan PBB untuk Libya, Stephanie Williams, mengatakan, perdana menteri baru memiliki waktu tiga pekan untuk membentuk Kabinet yang akan didukung oleh berbagai kelompok politikus.
“Setelah disetujui, semua otoritas paralel harus dianggap batal demi hokum,” katanya kepada Forum Dialog Politik Libya setelah pemungutan suara. []





















