Marawi, Gontornews — Pasukan Filipina telah meluncurkan serangan baru terhadap pejuang ISIS yang bersembunyi di selatan negara itu dengan tujuan untuk menyelesaikan pertempuran itu sebelum akhir Ramadhan, kata seorang jurubicara militer.
Memasuki minggu kelima, hampir 350 orang telah terbunuh dalam pertempuran di Kota Marawi.
Warga yang melarikan diri mengatakan, mereka melihat sejumlah mayat di puing-puing rumah yang hancur akibat pemboman dan baku tembak.
Pekan lalu, pemerintah mengatakan pasukannya telah menguasai 90 persen Kota Marawi.
Serangan pada hari Selasa (20/6) terjadi di tengah kekhawatiran bahwa bala bantuan pemberontak dapat tiba setelah Idul Fitri, yang menandai akhir bulan suci Ramadhan.
“Kami ingin membersihkan Marawi pada akhir Ramadhan,” kata jurubicara militer Brigadir Jenderal Restituto Padilla.
Komandan tentara dan polisi bertemu di Kota Cagayan de Oro, tak jauh dari Marawi, untuk menilai ulang strategi dan operasi terhadap para pejuang.
“Kami tidak bisa mengatakan kapan kami bisa mengakhiri ini karena kami bertempur dari pintu ke pintu dan ada jebakan-jebakan yang berbahaya bagi pasukan kami.”
Perebutan Marawi telah membuat khawatir negara-negara Asia Tenggara yang takut dengan ISIS yang sedang mencoba mendirikan sebuah kubu di Filipina selatan yang dapat mengancam seluruh wilayah.
Beberapa warga Muslim Marawi mengatakan, kelompok lain bisa bergabung dalam pertempuran setelah Ramadhan.
Pertarungan berlangsung sangat cepat pada hari Selasa karena pasukan keamanan melakukan serangan untuk mengusir para pejuang yang bercokol di distrik komersial Marawi.
Kopral tentara di dekat garis depan mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa tentara memberi tanda rumah dan bangunan yang telah dibersihkan.
“Kami masih harus membersihkan lebih dari 1.000 bangunan,” katanya sembari menambahkan unit infanteri masih berada di area yang telah “dibersihkan” untuk mencegah pejuang merebut kembali daerah yang telah mereka tinggalkan.
Pada hari Senin (19/6) militer mengatakan, 257 pejuang terkait ISIS, 62 tentara dan 26 warga sipil telah terbunuh. [Rusdiono Mukri]





















